Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Seolah Kalian Tau Segalanya


'Ihiw, ada bahan obrolan baru buat dianalisa dan dinyinyirin nih. Si dia mau kawin sama bule. Duitnya banyak kali. Ato kalo gak gitu yaaa dia cuma buat mainan aja'

Kita nggak akan pernah memuaskan hasrat banyak orang demi membuat mereka semua senang. Jika kita ingin membuat pasangan hidup kita bahagia, ya wajar, ya normal. Tapi tidak untuk membuat para suporter ataupun hanya penonton dalam hidup kita bahagia juga kah? Toh dari setiap langkah yang kita ambil, benar maupun salah juga masih saja bisa diambil celah salahnya untuk diwejangi ala mereka. Atau lebih bekennya, dinyinyirin.

Mungkin beberapa tulisan saya tentang menikahi WNA banyak yang terdengar 'keras', maafkan saya yang sedang jengkel-jengkelnya. Menikah dengan orang yang berbeda yang datangnya ribuan miles jauhnya dari Indonesia juga bukan hal yang mudah, you know! Tapi orang dengan mudahnya saja melihat kita yang sedang jalan berdua dan bertanya, atau nyeletuk istilahnya, 'Guidenya ya mbak?'. Guide mah bagus. Sesekali pernah dikira pembantunya. Pun pernah disebut 'slut'. Gara-gara warna kulit yang beda, warna mata yang beda, tinggi badan yang beda, dikiranya kita orang Indonesia ini nggak lebih baik dari mereka kaum kaukasoid.

Hey, kalian itu sesama orang Indonesia, bukannya mendukung mendoakan malah menyengsarakan. Mendewakan mereka yang bermata biru serta berkulit pucat. Berkulit coklat itu bagus kok. Sehat. Pigmen kita ini sehat, nggak gampang kena kangker kulit (naudzubilah). Kenapa sih tolak ukur kalian dangkal banget cuma kisaran warna dan fisik?

Makanya tiap hari tuh baca bacaan yang berbobot, jangan bacaan isi gosip, memecah belah, memuat SARA aja! Inferiority complex kok dipiara sih. Mau-maunya merendahkan diri cuman gara-gara perbedaan fisik. 

Ini masih suami aja nih, belom ada anak. Anak juga gitu, didoain baek sama temen ehh ujung-ujungnya 'semoga kayak bapaknya ya'. Lah situ kata saya yang berkulit coklat ini nggak pantes apa urunan dalam hal fisik dan karakter anak? Anak juga anak sapa? Bukan anak lo kan?! Semoga aja ntar kalo emang anak-anakku lebih cenderung ke genetik bapaknya, semoga deh nggak ada yang bilang aku baby sitternya anakku. Ngebayangin aja udah sedih tau 😖

'Yah nikah sama bule sih, paling juga cuman dibuat mainan doang'. Naudzubillah! Amit-amit jabang bayi lanang wedok!!! Semoga yang bilang begitu, nggak bahagia idupnya. Orang nikah bukannya di doain yang baek-baek malah digituin. Situ punya otak nggak sih? Mulut itu disingkronkan dulu sama otak, jadi biar nggak asal jeplak aja. Sumpah untuk hal ini saya bener-bener dibikin sakit hati. Luar biasa. Kepikiran dan jadi beban sampai sekarang, sembari mikir 'orang itu jahat banget ya, tega bilang gitu'. Tapi seorang teman menenangkanku dan mengatakan 'nggak usah digubris, orang kalo referensinya sinetron, infotainmen aja ya gitu deh mikirnya. Ujung-ujungnya jelek mulu pikirannya'.

Kalian nggak pernah tau gimana beratnya memperjuangkan hubungan cross cultural ini. Kalian nggak tau juga gimana beratnya adaptasi satu sama lain dengan segala perbedaan aspek yang jauh lebih mencolok. Kalian nggak tau rasanya LDR dengan kondisi lingkungan kerja suami yang nggak seaman lingkungan kalian. Kalian nggak akan pernah tau karena kalian emang nggak akan pernah dengerin. Yang kalian bisa hanya menghakimi dan memberi wejangan seolah kalian tau segalanya.

Rumus kehidupan kalian beda dengan rumus kehidupan saya. Tujuannya apa sih? Hidup bahagia kan? Mencari satu jawaban benar dalam matematika saja bisa melalui banyak rumus dan cara. So please, kalian nggak usah sok tau dan sok menghakimi. Apalagi diikuti dengan pertanyaan lanjutan 'udah isi?'. Terima kasih.



Semoga tuhan selalu melimpahkan kasih sayangnya kepadaku dan suami serta keluargaku. 

Comments

  1. wong2 iku gemberah ae kok
    wis biyasahhh iku
    gak usah direken mbak, sing penteng seneng

    ReplyDelete
  2. Woalah, baru tau aku wkwk. Pertanyaanku di postingan sebelumnya udah kejawab disni hehe

    ReplyDelete
  3. Woalah, baru tau aku wkwk. Pertanyaanku di postingan sebelumnya udah kejawab disni hehe

    ReplyDelete
  4. ya allah pris aku ngakak pas kamu bilang "emang aku ga boleh urunan" bikin anak? ya allah..
    mulut nyinyir berapa sih harga bahagianya, boronga aja sekalian pris biar abis dan ga punya bahagia mereka... palong mureeeee. bahahahahha

    btw congraats kalian berdua, aku liat potonya bikin terhuraaa,, eh terharu
    congrats congrats congrats

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau ikutan mborong ga may? Lagi promo lebaran kayaknya haha

      Delete
  5. Pancal sendal wae mbak wong koyok kui

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sendalku luweh larang mas timbang sendale syahrini. Eman 😂

      Delete
  6. hihi, beberapa hal aku dapatkan dari tulisan ini. It's amazng dan kulihat tutur jawa apa sundanya kentel banget yah .

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Sudah Vaksin Covid Lengkap

Sei sapi yang kucintai Yes, it's my biggest flex this year.  Setelah vaksin pertama akhir Mei kemarin, akhirnya gw udah dapet suntikan kedua tanggal 21 Agustus 2021. Cantik kan tanggalnya?  Masih di RS yang sama, Surya Husadha, kali ini gw berangkat pagi. Yaa... 15 menit lebih pagi daripada vaksin pertama 😬 Karena gw ketiduran, seperti biasa. Hari itu hari sabtu, memang sengaja milih akhir pekan waktu vaksin pertama. Kita nggak tau efeknya bakalan gimana kan.  Vaksin pertama gw bisa bilang hampir ga ada efek apapun sih. Cuma ke UGD aja hari ketiga karena asam lambung naik banget. Setelah gw inget-inget, gw emang nggak banyak makan setelah vaksin malah gegoleran dan kata dokternya "Kalau abis vaksin tuh makan mbak yang banyak, protein yang banyak, jangan malah ga makan. Jadinya asam lambung naik kan?" Yasudah abis disuntik ranitidin, sejam juga gw udah mendingan.  Jadi gw bertekad "Ok setelah vaksin kedua, gw harus makan yang banyak!!!" Setelah gw datang di RS,...