Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Kenali Profil Resiko Sebelum Investasi

"Wah emas lagi tinggi nih, gw jual gimana?"
"Trus kalo dijual mau dialokasikan kemana dananya? Udah tertarik saham?"
"Nggak juga sih, ya buat beli emas lagi aja ntar kalo udah turun"

Lak mbulet ae koyok entut 😂

Investasi itu bukan perihal ikut-ikutan lho. Ya gapapa ngikut investasi tapi pastikan profil resikonya sesuai dengan diri sendiri. Jangan pernah samakan profil resiko kamu dengan orang lain. Kalau ada yang nanya gw selalu tanya profil resikonya apa dulu. Masa iya yang konservatif langsung investasi saham? Ya mabok 😅


Ada tiga jenis profil resiko: konservatif, moderat, progresif.

Sesuai namanya, konservatif ya yang nggak mau terlalu beresiko. Maunya hidup tenang, tidur nyaman, nggak dihantui mimpi "Woi investasi lu lagi turun, jual-jual sana daripada makin rugi lhoooo." Biasanya jenis ini maunya yang pasti-pasti aja macem deposito. Tentu saja sesuai prinsip investasi, kalau maunya yang aman yaaaa return juga baliknya dikit.

Jenis kedua adalah moderat. Sesuai judulnya, tipe ini di tengah-tengah yang yaaaa agak beresiko dikit boleh lah, tapi jangan banyak-banyak. Yang sekiranya nggak banting banget lah kalo harga turun.

Selanjutnya tipe progresif yang suka tantangan. Sekiranya, boleh lah kita invest banyak di saham biar dapet return tinggi juga. Tapi, nggak melulu berani menghadapi tantangan aja, tapi juga membekali diri dengan ilmunya. Kalau berani dapet tantangan aja tapi ga ada ilmu ya bego namanya. Justru yang tipe begini harus pinter-pinter ngatur siasat saat anjlog dan saat menanjak.

Tenang aja, investasi itu bukan untuk semua orang kok. Nggak semua orang cocok dan ingin investasi dan itu nggak masalah juga. Yang penting, pastikan sebelum investasi kamu paham dulu apa yang mau dibeli dan prospeknya gimana. Pelan-pelan aja, satu per satu dulu, santai saja. Yakinkan diri sendiri sembari belajar 😉

Comments

  1. Hmm aku setuju, untuk hal lain pun jngan terburu2, harus daripemikiran yg matang

    ReplyDelete
    Replies
    1. yak betul, harus dipikir dulu ndak boleh grusa grusu biar ga nyesel heheh

      Delete
  2. investasi emas saya rasa masih yang paling aman

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya emas dianggap bisa menjaga kekayaan dg resiko rendah. Kembali ke prinsip invest sedikit return sedikit dan juga sebaliknya. Yang mana yg cocok aja dg profil resiko :D

      Delete
  3. Saya juga lebih memilih yg konservatif

    ReplyDelete
  4. Inpestasi aku di Indomaret. Jajanin Keenan tiap bulan biar perutnya gembul -__-'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jajanin aku jg dong om. Aku kan seumuran Keenan juga

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...