Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Bagaimana Rasanya Tinggal di Desa Kecil Seperti Saleve?

Ya nggak tau makanya gw nanya 😂

Gw udah seminggu lebih nggak keluar rumah kalo nggak belanja, udah mulai bosen banget. Kerja dari rumah sih, tapi yaaa begitulah. Bosen juga ternyata nggak ngeliat dan berinteraksi dengan manusia lainnya.

Kemudian gw liatin foto-foto di folder gw yang masih di HP waktu ke Saleve. Trus mikir, "Gimana ya rasanya tinggal di desa kecil gini?" Ya meskipun desa kecil, akses internet ya udah oke lah. Tapi karena masih yaaaa sabtu minggu nggak ada yang buka si toko-toko ini, bener-bener weekend khusus untuk waktu di rumah bareng keluarga. Gw pernah tau, ini cerita di Jerman begini dulu. Tapi ternyata ya Swiss pun begitu (Mall hari minggu tutup), ternyata Saleve ini juga gitu.

Saleve ini desa kecil yang ada di perbatasan Swiss. Jadi udah masuk Prancis, tapi 30 menit aja naik bus dari Geneve. Desanya terletak di puncak gunung ini. Pohon-pohon hijau yang muterin gunung itu, jalan yang bisa di akses mobil juga.




Jalan menuju puncak, yang mengelilingi gunung.


Sumpah setengah mati gw mendaki gunung ini.

Tangga ini bikin mengumpat ratusan kali. Karena naik dan turun, eh pas turun kepleset. Untung nggak meluncur sampe bawah.

Desa di atas gunung.

Mau social distancing juga gimana? Wong jaraknya udah jauh-jauhan begini, penduduknya juga dikit. Ngumpul aja di warung buat minum coklat anget, teh, disambi makan croissant.


Nggak ada manusia yang keluar di hari minggu. Ya emang dingin sih, cuma kok yaaa masa sih nggak ada yang beli-beli gas kek, sembako kek.


Mobil yang lewat jalan ini bisa dihitung jari. Bener-bener dikit banget. Jalanan cenderung sepi.

Geneve dari Saleve.


Ini jam 3-4 sore.

Tapi yang jelas udaranya ini bersih banget. Oksigen yang masuk ke paru-paru rasanya aduhai sekalian bisa membersihkan organ dalam rupanya. Mungkin... aku akan ingin tinggal di tempat sejenis ini nanti. Waktu mendekati pensiun mungkin 💕

So, I hope you enjoy some pictures here. I am bored being self isolation for more than a week already, so I edited these and post these. Enjoy and stay home! STAY F HOME if it is possible! 💕

Comments

  1. Entah mengapa ketika baca artikel ini langsung membayangkan jika aku berada di desa saleve ini. Kira-kira apa ya yang bakal aku lakukan di sana. Mungkin aku bakal sering berjalan kaki, treking naik gunung, dan menikmatinm suasana sepi, pemandangan, dan udara segar perdesaan.

    Aah, bagus sekali xeritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rupanya kita memiliki bayangan yang sama hahaha

      Bisa jadi sehat kalo sekeliling begini, yang trekking aja banyak kakek nenek tapi lebih tangkas daripada daku huhuhu

      Delete
  2. Layangan mbak. Nek aku malah layangan karo Keenan. Sepi banget helloo...

    Aman gak ono emak-emak sing rusuh ngusir wong layangan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...