Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Sambang Opa Buyut di Ereveld Menteng Pulo

 

Karena sedang ada urusan dadakan ke Jakarta, maka sekalian gw putuskan untuk sambang ke opa buyut. Opa buyut adalah salah satu orang Belanda yang meninggal di Jepang ketika ditawan sebagai tawanan perang di Perang Dunia II.

Menurut nama keluarga, ada kemungkinan beliau merupakan anak dari keluarga Jerman yang bergabung dengan Belanda sehingga secara otomatis tercatat sebagai warga negara Belanda, menikah dengan oma buyut yang mana masih juga keturunan Belanda. Mereka berdua mempunyai seorang anak lelaki yang dikirim ke Belanda pada tahun 1955 sehingga terpisah dari adiknya (nenek gw) yang masih kecil. Mami (nenek gw) masih sekitar umur setahun saat opa buyut ditawan. 


Beliau meninggal saat usia 37 tahun, masih relatif muda. Oma buyut meminta jenazahnya dikirim ke Indonesia tapi permintaan itu tidak disetujui. Akhirnya setelah beberapa saat, pihak-pihak yang berkaitan memulangkan jenazah para korban perang yang sudah dikremasi. Abu opa buyut disimpan di Ereveld Menteng Pulo, Jakarta.


Bertahun-tahun mami pengen banget dateng kesitu tapi kesempatannya masih nggak datang sampai pada akhirnya mami menyusul opa. Karena rasa penasaran dan keinginan untuk kembali menelisik garis keluarga, maka adik yang sekolah di Jakarta mencari dimana abu disimpan. Setelah pencarian panjang dan ditemukan abu opa, tersimpan rapi di bagian atas rak. Sebulan setelah mami meninggal.

Saking bahagianya gw, gw lapor lah ke papa mertua gw yang berujung pada omelannya karena gw telat banget. Karena mami gw meninggal dan mami nggak bisa tau lebih banyak soal papanya. Gw ya agak nyesel sih karena kita telat mencari padahal semua data terekam di database yang ada di Belanda. Papa mertua gw langsung cari database keluarga opa dan oma buyut. Ada dua nama yang mirip tapi yang satu asalnya bukan dari Jawa Timur. Setelah beberapa pencarian, ketemulah satu data persis yang menjelaskan tentang abu jenazah dikirim ke Lemmers, marga oma buyut gw. Dari situ gw jadi tau kalau marganya mamanya opa buyut gw itu sama kayak marga mama sambungnya suami gw.


  
Disimpan di rak O, dengan nama ACL von Bannisseth (meski namanya salah tulis van)

Nyesel karena telat, tapi gw bahagia akhirnya ketemu juga. Kemarin gw ke Jakarta ada urusan di Kuningan, gw sempetin mampir. Ternyata jaraknya hanya 2km aja. Gw datang ditemenin adek gw dan kita cuma berdua disitu. Gw hampir nangis karena nggak nyangka aja gw bisa ketemu opa buyut gw. Meski dalam keadaan yang berbeda.

And I said, "Hi opa! Sorry I just came today. I am glad I came. I am the first granddaughter of your daughter"

 

Beristirahat lah jiwa-jiwa yang tenang dalam damai 💚

Comments

  1. Gw aja yang di Jakarta gak tau ada tempat beginian. Bayar mbak masuknya? Apa familinya doang yang boleh berkunjung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang sih dibuka untuk umum. tinggal pencet bel aja (lumayan jauh juga dari gerbang), trus isi buku tamu dan tujuannya mau ngapain. Bagus lho, cus nyobain berkunjung. Kalo kesana nitip salam ke uyutku :D

      Delete
    2. Wahhh boleh jugaaa

      Jadi pengalaman baru kalo berkunjung ke situ

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

Pengalaman Bikin (Free) Schengen Visa di VFS Swiss

I know this is so normal but anyway I like to compare the experiences because people might have different cases and because I have nothing to lose so... here's my experience for applying Schengen Visa via Swiss (VFS). Kenapa nggak via Belanda? Karena rencana kita berkunjung lamanya ke Geneve - Swiss (ada urusan kerjaan suami gw) dan kami belum tau akan ke Belanda apa nggak saat itu (nggak jadi sih soalnya mepet banget).  Seperti yang sudah sering dibahas orang lain perihal syarat dan ketentuan apply Schengen visa, gw nggak akan nulis itu ya. Udah ada di website VFS, lengkap. Gw cuma tambahin dikit-dikit aja infonya yang mungkin sama seperti kasus yang baca kalo emang kebetulan sama sih 😂 "Ok jadi total pembayarannya 280 ribu rupiah ya" "HAH?? Cuma 200an mbak??? Visanya gratis???" "Suaminya masih WN Belanda kan mbak?" "Iya" "Oiya itu gratis, bisa pake visa tipe C. Jadi cuma bayar biaya admin aja" ...