Skip to main content

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

Unexpected Layover In Brunei



So, canceled our flight back from Bangkok to Denpasar with Thai Airways, then try to find other flight back with reasonable price. I remembered that I was browsing for Royal Brunei before I fly to Bangkok and the price is the cheapest one among other airlines. We can’t really say this is a budget airlines but also not as great as other airlines. It was ok, almost same like GA without movie screen. So it’s like in the middle.

We found one flight (apparently they have their own flying schedule) from Bangkok to Denpasar on 9 January (we planned to get back on 8 Jan) with layover in Brunei for 4 hours.

I read about layover in Brunei and it seems that we can see the city for 2 hours. So let me tell you, Brunei airport is small. I need less than 20 mins to get out from airplane until immigration. Literally get out to the taxi spot. The immigration staff was the friendliest for me. He asked me where to stay in Brunei because I didn’t write any and I told him that I just transit for 2 hours to see the city. He let me pass, but H need more time to pass. That guy wasn’t sure that we can make it because it seems too short but H said that he want to see little bit and back in time so he stamp H passport. 

Immigration was divided into 2 spots, for ASEAN passport holder and Non ASEAN. It get so extremely quick to pass the immigration. No lines to queue up (even when we get back to airport, we both the only one at immigration service). We were so happy no lines like in Istanbul or Bangkok or Bali. 

And we were looking for money changer. It was in departure area. Departure area is upstairs, arrival is downstairs. I think that is the only one there. Then we rent a taxi for 2 hours to take us everywhere to see the city. It cost 70 dollar Brunei. He took us to Hasanil Bolkiah mosque where it has gold on its top, Omar mosque, Grand palace (to take picture in front of the fence), night market where we ate tasty sate and hear Jaran Goyang song (dunno who is the singer), passing the new bridge, stop at city center that was the quiet place for me. Population only 400k people including expats who works there. So small.

Masjid Hasanil Bolkiah

 

 

So small city, clean, green, no pollution of course, no traffic, really nice small city. I think it even smaller than Singapore (expensive as Singapore uh).

Not everyone know about Brunei. I also didn’t expect that I would be there even for 2 hours only. We met strangers in Ubud and we told them about this, they were like ‘Where is it?’ and I said ‘A small rich country where you don’t need to pay taxes if you live there’.

 
Masjid Omar Ali

I never expected to be there. It is small country, as expensive as Singapore, but so quiet at night, like almost no attraction there. Funny thing was when we were in Omar mosque and I need to pray (maghrib), I was washing my self and don’t know where to go, I asked a guy in English and he seems doesn’t understand so I speak mixed Bahasa and Malay. He showed me, not so clear but I walked there. Then I asked another guy and he said ‘Sebelah sini nduk, lewat sini’. I said makasih then I stopped and think ‘NDUK????’ I found it only in Java lol

Oh yea the language accent is closer to Bahasa than Malay. I can understand when people talk Malay, I just don’t want to use it. And there, in Brunei, it just like talking to each other using Bahasa. During this 2 hours layover, I saw road signs and everything written in Arabic or Malay. It’s like double, like in Malang some road signs are written in Bahasa and Dutch, in Central Java written in Bahasa and Javanese (hanacaraka). So it’s quite new for me to see Arabic and Malay.

It was fun for two hours. Was amazing short tour.

Comments

Popular posts from this blog

Mendaftar Pelatihan di Prakerja

Sanur Jadi dulu program ini diluncurkan pemerintah untuk kasih insentif orang yang di PHK atau tidak bekerja pas pandemi. Jadi ya gw tentu saja nggak punya hak tho. Sebagai orang yang nggak punya hak, ya gw nggak ikutan lah. Trus temen gw beberapa bulan lalu bilang, ikut aja soalnya ini buat yg kerja yg mau nunjang skill juga lho.  "Hah masa sih?" Yaudah pas liat oh ya bener juga, jadi gw daftar. Daftar pertama di gelombang 20 nggak lolos. Trus ya udah patah hati dah lah gausah daftar. Eh tiba-tiba minggu lalu temen gw lolos gelombang berapa gitu, lalu bilang kalau gelombang 29 udah buka. Yaudah deh ikutan aja. Eh lolos dong. Pembukaan gelombang ini termasuk cepet. Hampir tiap minggu selalu ada gelombang baru yang dibuka. Jadi daftar di gelombangnya itu selama 3 harian, pengumumannya 3 hari kemudian, lalu 3 hari kemudian udah bukaan baru. Bener-bener cepet banget. Nah temen gw yang lagi S2 nggak bisa ikutan padahal dia juga kerja sebagai pengajar. Alasannya KTP sudah terdafta

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men