Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Galau gara-gara emas



‘Ka, anterin ke pegadaian dong ntar siang ya, aku mau buka tabungan emas’
‘Oke ayok aku anter siap. Kabarin aja’

Ceritanya ini dia berencana sejak 6 bulan lalu sejak harga emas per gram masih 530 ribu sampai sekarang 580 ribu. 

Jam 12…

‘Mbak, jadi kan?’
‘Nggak jadi Ka, aku galau jadinya’
‘Lah, yawes tak makan siang dulu deh’

Ternyata setelah berbicara dengan si mbak itu, dia galaunya kenapa saudara-saudara???? Takut rugi. Lah?? Bingung dong saya, kok takut rugi itu kenapa dan gimana maksudnya?? Ternyata begini, dia cek harga beli emas per hari itu 580 ribu per gram, sedangkan harga jualnya 560. 

‘Nggak jadi beli Ka, la kok aku rugi 20ribu kalo aku jual’

Wajar dia jadi galau ya, karena ada temannya yang mempengaruhi ‘Nggak usah beli emas, tabungin aja di rekening terpisah. Ntar seneng kalo liat jumlahnya’ à mbak yang satu ini paling anti sama investasi, gatau kenapa, padahal dia cinta mati sama duit.

Kalau itu sih tergantung niat mbak, maunya liat jumlah duit 10 digit di tabungan apa dapat lebih dari itu dari return investasi?

Saudara-saudara, apakah anda membeli emas sekarang untuk dijual besok? Ya nggak mungkin kan. Saya jelaskan lagi ke si mbak, saya nanya bener-bener ini, ‘Mbak mau beli emas sekarang ini, trus mau dijual minggu depan gitu?’. dia jawabnya nggak, tapi dia galau kalau mendadak butuh uang gimana kalo harganya turun. Ok, harus dipisahkan antara dana darurat dan investasi. Tujuan dia menabung emas adalah untuk menabung sebelum dijadikan property berupa tanah atau rumah. Ya, itu juga salah satu tujuan saya. Dan tujuan dia lainnya untuk dijual ketika membutuhkan. Bisa sih, tapi menurut saya harus dipisah. Karena sejauh ini dia belum memiliki dana darurat, jadinya dia masih mencampur adukkan tabungan emasnya dengan ‘kebutuhan dadakannya’ nanti. 



aku cuman mau emasku numpuk kayak gini hahaha (pinjem kok gambarnya disini)

Saya kasih gambaran ke mbaknya, sebut saja ilustrasi seperti ini :

Saya membeli emas bulan februari dengan harga 530 ribu per gram. Saat itu harga jualnya sekitar 510 ribu per gram. Pertengahan bulan agustus, saya membeli dengan harga per gramnya 580 ribu dengan harga jualnya 560 ribu per gram. Kalau saya ingin menjual emas yang saya beli bulan februari itu sekarang, satu gram saja misal, saya sudah untung 30ribu kan pergram. 

Idealnya memang investasi emas batangan ini bukan untuk jarak pendek tapi menengah. Analisis sederhana saya selama menabung ini, saya bisa menyimpulkan modal akan kembali tanpa untung setelah 3 bulan, dan akan mendapatkan sedikit untung dalam 6 bulan. Jadi kalau ingin menjual emas batangannya, tunggu setelah 6 bulan ya biar dapet untung biarpun sedikit. Pakai saja formula kasar saya itu, tiap satu gram selama 6bulan dapat untung 30ribu. Kalau kita punya emas 10gram, untung kita 300 ribu. Kalau punya 50 gram, untung kita satu juta lima ratus kan dalam 6 bulan?

Kalau urusan sewaktu-waktu butuh dana trus dijual, cara mensiasatinya ya kita harus ada dana darurat dulu. Dan menabung emas jauh-jauh hari. Kita memang nggak tau sih kapan keadaan darurat itu datang, makanya sebelum itu harus ada dana darurat dulu. Ya paling tidak mengcover sebagian kebutuhan darurat kita lah. Nggak seketika menjual emas batangan seminggu setelah dibeli. 

Saya bukan financial planner, bukannnn, saya juga sedang berusaha menyehatkan kondisi financial saya. Kemudian si mbak bilang ‘Ka, nanti share lebih lanjut ya soal gimana caranya bagi duit karena emang aku masih bingung baginya, apalagi aku udah punya anak’. Ya seneng dong, pendapat saya ternyata dipertimbangkan. 

Akhirnya dengan saran saya, dia memutuskan membuat rekening baru untuk dana darurat. Dan mengeksekusi investasi emasnya. Jadi duitnya dia dibagi 2, setengah investasi emas, yang setengah buat dana daruratnya.
Keinginan untuk investasi itu bagus, lebih bagus lagi kalau dieksekusi. Jadi nggak ngomong aja. Bisa-bisa duit 5 juta bisa dapet emas 10 gram, eh karena ditunda jadi cuman dapet 8gram deh. Kan sayang. 



Cara menabung emas di Pegadaian bisa dibaca disini ya
 

Comments

  1. Bener, langsung eksekusi, jangan rencana doang. Rencana doang ntar keburu naik senin depan, macem rumah yang dijual feni rose di tipi, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha tp itu bs kasih efek dramatis dan galo lho mas, pkiran kita jd dipermainkan 'waduh hrus cpet beli nih'

      Delete
  2. hai kakak :p
    itu galau tak pikir gara-gara mas roy :p hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya mas, galo gara2 pengen jg nyobain ORI hahaha

      Mas ditungguin tulisan investasinya buat jd referensi hihi 😄

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Seolah Kalian Tau Segalanya

'Ihiw, ada bahan obrolan baru buat dianalisa dan dinyinyirin nih. Si dia mau kawin sama bule. Duitnya banyak kali. Ato kalo gak gitu yaaa dia cuma buat mainan aja' Kita nggak akan pernah memuaskan hasrat banyak orang demi membuat mereka semua senang. Jika kita ingin membuat pasangan hidup kita bahagia, ya wajar, ya normal. Tapi tidak untuk membuat para suporter ataupun hanya penonton dalam hidup kita bahagia juga kah? Toh dari setiap langkah yang kita ambil, benar maupun salah juga masih saja bisa diambil celah salahnya untuk diwejangi ala mereka. Atau lebih bekennya, dinyinyirin. Mungkin beberapa tulisan saya tentang menikahi WNA banyak yang terdengar 'keras', maafkan saya yang sedang jengkel-jengkelnya. Menikah dengan orang yang berbeda yang datangnya ribuan miles jauhnya dari Indonesia juga bukan hal yang mudah, you know! Tapi orang dengan mudahnya saja melihat kita yang sedang jalan berdua dan bertanya, atau nyeletuk istilahnya, 'Guidenya ya mbak?'...

Jangan minta oleh-oleh!

    Taken from internet Pernah nggak kalau kita mau bepergian, trus orang-orang pada bilang 'Jangan lupa oleh-olehnya ya' ? Pasti pernah dong ya... Yang jelas saya nggak pernah ngerti kenapa orang sering meminta sesuatu ketika kita pergi somewhere. Dulu waktu kecil juga saya suka bilang begitu. Siapa yang pergi kemana pasti deh 'jangan lupa oleh-olehnya ya om, tante pakdhe, budhe, mas, mbak'. Tapi lama kelamaan saya mikir 'saya cuman ngomong aja tanpa niat minta oleh-oleh', kecuali kalo memang kita menitipkan hal itu karena memang hanya ada ditempat yang akan dikunjungi orang tersebut, misal buku. Pernah nitip beliin buku di Korea karena emang adanya disana. Jadi esensinya oleh-oleh itu apa? Saya juga kurang tau soalnya udah nggak pernah lagi minta dibawain oleh-oleh. HJ pulang ke Belanda sana saya cuma minta beliin buku. Itupun nggak dibeliin gara-gara bukunya nggak bagus kata dia. Oleh-oleh pun ada yang sekedar apa adanya karena emang adanya begitu...