Skip to main content

Tiga bulan pertama hidup di luar Indonesia

Gw kira rasanya akan sama aja. Ada rasa kangen ya wajar karena jauh dari tempat yang selama ini kita sebut familiar. Tapi ternyata ada rasa rindu yang pukulannya berbeda.  Di kasus gw, gw cuma kenal satu orang Indonesia. Beliau bilang kalau mau temen jalan-jalan bisa lah berkabar biar jalan bareng. Tapi karena gw ada kerja dari senin-jumat, sedangkan beliau nggak, jadinya waktu kami seringkali nggak pas. Sedangkan di akhir pekan, gw habiskan bersama suami.  Bulan pertama masih terasa integrasi. Berusaha mengenal supermarket mana yang jual apa. Cari ini itu di mana. Menghafal jalur transportasi umum. Mengenal, membaca dan memahami nama daerah atau tempat dari huruf cyrilic-nya untuk sekedar "kalau nyasar, bisa kasih tau suami lagi ada di mana" karena seringkali online maps dihambat pemerintah.  Bulan kedua sudah mulai mengenal banyak hal. Sudah punya kartu atm untuk pembayaran. Visa panjang juga sudah di tangan. Mulai berhati-hati dengan banyak hal, mana yang boleh mana ya...

Galau gara-gara emas



‘Ka, anterin ke pegadaian dong ntar siang ya, aku mau buka tabungan emas’
‘Oke ayok aku anter siap. Kabarin aja’

Ceritanya ini dia berencana sejak 6 bulan lalu sejak harga emas per gram masih 530 ribu sampai sekarang 580 ribu. 

Jam 12…

‘Mbak, jadi kan?’
‘Nggak jadi Ka, aku galau jadinya’
‘Lah, yawes tak makan siang dulu deh’

Ternyata setelah berbicara dengan si mbak itu, dia galaunya kenapa saudara-saudara???? Takut rugi. Lah?? Bingung dong saya, kok takut rugi itu kenapa dan gimana maksudnya?? Ternyata begini, dia cek harga beli emas per hari itu 580 ribu per gram, sedangkan harga jualnya 560. 

‘Nggak jadi beli Ka, la kok aku rugi 20ribu kalo aku jual’

Wajar dia jadi galau ya, karena ada temannya yang mempengaruhi ‘Nggak usah beli emas, tabungin aja di rekening terpisah. Ntar seneng kalo liat jumlahnya’ à mbak yang satu ini paling anti sama investasi, gatau kenapa, padahal dia cinta mati sama duit.

Kalau itu sih tergantung niat mbak, maunya liat jumlah duit 10 digit di tabungan apa dapat lebih dari itu dari return investasi?

Saudara-saudara, apakah anda membeli emas sekarang untuk dijual besok? Ya nggak mungkin kan. Saya jelaskan lagi ke si mbak, saya nanya bener-bener ini, ‘Mbak mau beli emas sekarang ini, trus mau dijual minggu depan gitu?’. dia jawabnya nggak, tapi dia galau kalau mendadak butuh uang gimana kalo harganya turun. Ok, harus dipisahkan antara dana darurat dan investasi. Tujuan dia menabung emas adalah untuk menabung sebelum dijadikan property berupa tanah atau rumah. Ya, itu juga salah satu tujuan saya. Dan tujuan dia lainnya untuk dijual ketika membutuhkan. Bisa sih, tapi menurut saya harus dipisah. Karena sejauh ini dia belum memiliki dana darurat, jadinya dia masih mencampur adukkan tabungan emasnya dengan ‘kebutuhan dadakannya’ nanti. 



aku cuman mau emasku numpuk kayak gini hahaha (pinjem kok gambarnya disini)

Saya kasih gambaran ke mbaknya, sebut saja ilustrasi seperti ini :

Saya membeli emas bulan februari dengan harga 530 ribu per gram. Saat itu harga jualnya sekitar 510 ribu per gram. Pertengahan bulan agustus, saya membeli dengan harga per gramnya 580 ribu dengan harga jualnya 560 ribu per gram. Kalau saya ingin menjual emas yang saya beli bulan februari itu sekarang, satu gram saja misal, saya sudah untung 30ribu kan pergram. 

Idealnya memang investasi emas batangan ini bukan untuk jarak pendek tapi menengah. Analisis sederhana saya selama menabung ini, saya bisa menyimpulkan modal akan kembali tanpa untung setelah 3 bulan, dan akan mendapatkan sedikit untung dalam 6 bulan. Jadi kalau ingin menjual emas batangannya, tunggu setelah 6 bulan ya biar dapet untung biarpun sedikit. Pakai saja formula kasar saya itu, tiap satu gram selama 6bulan dapat untung 30ribu. Kalau kita punya emas 10gram, untung kita 300 ribu. Kalau punya 50 gram, untung kita satu juta lima ratus kan dalam 6 bulan?

Kalau urusan sewaktu-waktu butuh dana trus dijual, cara mensiasatinya ya kita harus ada dana darurat dulu. Dan menabung emas jauh-jauh hari. Kita memang nggak tau sih kapan keadaan darurat itu datang, makanya sebelum itu harus ada dana darurat dulu. Ya paling tidak mengcover sebagian kebutuhan darurat kita lah. Nggak seketika menjual emas batangan seminggu setelah dibeli. 

Saya bukan financial planner, bukannnn, saya juga sedang berusaha menyehatkan kondisi financial saya. Kemudian si mbak bilang ‘Ka, nanti share lebih lanjut ya soal gimana caranya bagi duit karena emang aku masih bingung baginya, apalagi aku udah punya anak’. Ya seneng dong, pendapat saya ternyata dipertimbangkan. 

Akhirnya dengan saran saya, dia memutuskan membuat rekening baru untuk dana darurat. Dan mengeksekusi investasi emasnya. Jadi duitnya dia dibagi 2, setengah investasi emas, yang setengah buat dana daruratnya.
Keinginan untuk investasi itu bagus, lebih bagus lagi kalau dieksekusi. Jadi nggak ngomong aja. Bisa-bisa duit 5 juta bisa dapet emas 10 gram, eh karena ditunda jadi cuman dapet 8gram deh. Kan sayang. 



Cara menabung emas di Pegadaian bisa dibaca disini ya
 

Comments

  1. Bener, langsung eksekusi, jangan rencana doang. Rencana doang ntar keburu naik senin depan, macem rumah yang dijual feni rose di tipi, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha tp itu bs kasih efek dramatis dan galo lho mas, pkiran kita jd dipermainkan 'waduh hrus cpet beli nih'

      Delete
  2. hai kakak :p
    itu galau tak pikir gara-gara mas roy :p hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya mas, galo gara2 pengen jg nyobain ORI hahaha

      Mas ditungguin tulisan investasinya buat jd referensi hihi 😄

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Jumat ceria

Hari ini memang bukan hari jumat, tapi cuman mau bilang aja sih kalo hari yang paling aku tunggu-tunggu itu hari jumat. Why?   Karena jumat itu selalu ceria, kalopun ada meeting besar pasti di hari jumat dan banyak cemilan, orang-orang pada berangkat sholat jumat, yang nasrani juga mengikuti misa di kantor, bisa pake baju bebas dan bebas berekspresi sepuas-puasnya, dan..... bisa video call sepuasnyaaaaaa kapanpun karena dia libur kerja 😍😍 gambarnya lucu 😁  taken from internet

Melewati Pusuk Pass, Lombok

Kembali ke Pulau Lombok setelah dari Gili Air, kita pun 'turun' gunung menuju daerah selatan. Kita pun melewati Pusuk Pass atau orang suka bilang monkey forest. Tadinya sih dikira kayak kita masuk hutan trus yang banyak monyetnya, tapi ternyata jalanan pinggir tebing yang ada banyak monyet main-main disana. Sama persis kayak jalanan kearah rumah nenek. sampahnya nggak seharusnya disitu ya? Berhentilah kita disana. Takutnya monyetnya kayak yang di Bali itu, yang suka nyuri, eh ternyata nggak sih. Monyetnya anteng diem, makan mulu. Salah satu kesalahan pengunjung adalah memberikan makanan ke si monyet-monyet. Nggak apa sih kasih makan tapi plastiknya ya jangan dibuang disana juga lah. Sebenernya bukan dibuang disana sih, tapi monyetnya aja yang narik ngambil plastik makanan disana. Jadilah disitu kotor semua gara-gara plastik sisa makanan tadi. Eh namanya monyet ya masa iya bisa dikasih tau, 'hey monyet jangan buang sampah sembarangan!', kan ya nggak mun...

Selamat hari guru

Saya pernah lho jadi pengajar, and I found myself in it. Ya kurang lebih 2 tahunan lah saya mengajar. Awalnya sih nggak mau ngajar, karena malu dan nggak bisa ngomong didepan umum. Eh setelah dicoba ternyata keranjingan. Tapi saya nggak mau disebut sebagai guru, kenapa? Berat banget artinya. digugu lan ditiru, kalo kata orang Jawa. Dalem kan artinya? dijadikan sebagai seorang panutan, contoh dan teladan. Alesan lain nggak mau disebut guru karena saya masih doyan petakilan, kalo jadi guru kan kudu kalem ahaiiii. Saya nggak kalem. Saya lebih suka menyebut diri saya pendidik (educator) kala itu, bukan pengajar (teacher). Meskipun secara arti kayaknya lebih berat pendidik deh ya, tapi saya nggak mau aja related sama pengajar yang nggak memperdulikan anak didikannya, nggak menjaga moralitas dan tata krama anak didiknya, saya nggak suka meskipun nggak semuanya lho. Nggak semua, catet, nggak semua! Karena sebagai pendidik memberikan saya tanggung jawab lebih kepada anak didik saya.  ...