Skip to main content

Romanticizing My Cooking

Bakso I have to admit that my love for cooking is growing. It's growing and I can't believe it myself. This feeling has been like this since probably two years ago. Before, cooking felt like a hard work that I had to fulfill. It still is, but the difference is I enjoy it now. So it does not feel like I am forcing myself.  Back then whenever I cooked, it's either wrong recipe or incorrect measurement. It never tasted right. So I gave up cooking just because I never found the right one. And then I started to feel that I wanna eat better. I don't want to just eat whatever, I want to know what goes into my body. If I prepare it myself, then I know it's good one.  I don't eat too much sugar, sometimes it is hard to buy one thing outside and has a lot of sugar in it. So cooking it myself will allow me to control the amount of sugar. So I found recipes and I tried to make them. As to my surprise, they taste right! Exactly how they should have tasted. That made me happy

Nyepi ke-4 di Bali

Taken at 3am-ish

Tahun ini adalah tahun ke-4 gw nyepi di Bali. Ketagihan banyak Nyepi di Bali. Tahun ini juga semua serangkaian Nyepi terasa kembali normal. Normal dalam artian, kegiatan yang berhubungan dengan Nyepi sudah mulai dilaksanakan secara utuh. Karena 2-3 tahun sebelumnya masih nggak 100%, kali ini jauh lebih meriah. 

Upacara dimana-mana. Jalanan ditutup, diputar, dimana-mana. Melasti yang bisa aja kalau kalian nggak tau ya "kejebak" macet. Gw nggak suka keramaian, tapi prosesi-prosesi kejutan yang gw nggak sengaja liat di jalanan tuh menyenangkan sekali. Riuhnya kerasa buat gw. 

Big offerings

2-3 tahun lalu, seingat gw ATM tuh tutupnya H-1 Nyepi tapi jam-jam sore. Tahun ini jam 10 pagi ATM udah mati semua. Tahun ini juga gw tiba-tiba perlu urus visa yang mepet Nyepi, dengan janji temu hari kamis. Hari kamis ini masih ngembak geni, kegiatan belum ada yang 100%. Kalaupun ada pasti bukanya di atas jam 10 atau jam 1 siang. 

Gw perlu print beberapa dokumen terakhir yang berkejaran dengan waktu, jadi gw harus booking dan cetak agak telat, tapi nggak telat-telat banget karena gw harus cepet-cepet print dokumen gw. Gw juga belum ambil cash karena gw kiranya "Ah bisa lah ntar H-1 aja ambilnya." 

Keluar rumah jam 1 siang dengan harapan print masih buka karena beberapa hari lalu gw tanya mereka masih buka apa gak H-1, dan mereka bilang masih buka. Ya buka mungkin cuma sampe jam 10 -_-. Untungnya masih ada tempat lain yang gw bisa cetak di sana. Satu masalah usai, lalu muter sedesa buat nyari ATM yang masih buka. ATM kecil udah pada tutup dan mati semua. Temen gw nyaranin ambil di Mandiri gede deket rumah. Yaudah gw kesana, untungnya masih buka dong. 

Sanur

Mana agak deg-deg an juga karena takut tetiba ATM nya mati kan. Ambil sekian, bisa. Eh pas ambil dengan nominal yang sama lama banget trus nggak bisa. Yaudah kurangi setengah nominal baru bisa lagi. Antrian di belakang gw jadi panjang banget. Sampe gw parkir motor aja melintang banget karena takut nggak dapet bagian. 

Acara ambil duit beres. 

Tapi esoknya, saat Nyepi, ohmy! Menyenangkan sekali. Internet di hp sama seperti tahun sebelumnya, dimatikan. Tapi untuk wifi masih nyala. Jadi buat yang nggak ikut prosesi nyepi secara ibadahnya ya masih bisa lah pake internet. Hari itu cuacanya adem banget, mendung, sempet gerimis siang menuju sorenya. Anginnya semilir enak banget. Sungguh cuaca yang sangat menenangkan hati.

Taken at 8pm

Sepanjang hari berdoa agar langit malam terang, eh alhamdulillah puji tuhan langitnya cerah banget. Jam 8 malem gw ambil foto langit, milkyway-nya keliatan dengan mata telanjang. Memang nggak sejelas di foto tapi beneran keliatan riaknya. Setelah itu gw juga coba ambil jam 3 karena malem pertama sahur juga, malah lebih bagus banget langitnya. 

Bener-bener nggak nyesel banget gw beli tripod buat HP yang sengaja gw beli buat persiapan Nyepi. Karena ya ngambil foto milkyway nggak gampang, shutter-nya panjang juga, nggak boleh goyang juga biar gambarnya fokus. Tombol bluetoothnya bisa dipakai juga. Gw beli yang 160 cm tingginya. Bagian pegangan HP nya juga fleksibel diputernya, nggak kaku sama sekali. Ukurannya kalau dilipet nggak gede-gede banget, kalau dipakai utuh 160 cm kerasa banget kokohnya.

Daripada gw harus ndongak kan ya, sakit leher 😅

 

Tripod Mixio

Nyepi tahun ini berasa kejar-kejaran banget. Kayaknya gw udah siap semuanya tapi kok ternyata ya ada aja yang ketinggalan. 

Matahari keesokan hari bener-bener manis banget. Buat gw, terbitnya matahari di hari setelah Nyepi yang menandai awal mula tahun baru. Selamat tahun baru 1945.

Sunrise the day of Nyepi 1945

Sunrise the day after Nyepi

Well... lesson learned. Never postpone important things! And it is recommended to try spending Nyepi night in Bali, especially if you are big fan of stargazing. Trust me, it's worth it!

Comments

Popular posts from this blog

If Money Wasn't The Problem, What Would You Do?

In this extraordinary life, I would be a teacher still.  Helping people to understand even some little things to make them feel worthy and understand themselves better. It seems that teaching has become a calling for me. Not about teaching such specific subject like mathematics or so, but more like... I like to give new perspectives for people, and having them saying "Oh.... I see..." is satisfying for me. Of course, by teaching I can learn so many new perspectives from different people too. It's like the more I teach the more I learn, and that is so true. Maybe more like a guide. I like giving guidance to people who needs it. No, I don't like giving unsolicited guiding. I like to guide people who wants to be guided. I'd teach them how to love, love themselves first. Yea sure when we are talking about things, they would say "do useful things like engineering, plumbing, this and that" but they tend to forget that we need some balance in life. Not saying t

Cerita Karantina di Hotel

Cerita karantina selanjutnya 2 kali di hotel. Kali ini, semuanya berjalan lebih terkoordinir. List hotel karantina bisa dilihat di sini . Jadi nggak ada lagi drama nggak diladenin karena ina inu. Tinggal pilih hotel, hubungi hotel via WA atau email, kirim dokumen yang diperlukan, lalu kita dapat QR code yang nantinya ditunjukkan ke pihak bandara.  Karantina pertama kali di hotel gw bulan September kalau nggak Oktober 2021 dan bulan Januari 2022. Gw pesen di dua hotel berbeda. Karantina di hotel pertama dapet rejeki cuma 3 hari, jadi biaya yang dikeluarkan juga nggak sebanyak kemaren yang 7 hari.  dipakein gelang rumah sakit, dilepas pas check out. Nah, alurnya secara detail ada yang berubah sedikit tapi secara garis besar masih sama. Begitu datang, urus dokumen ini itu, lalu kita di PCR di lokasi. PCR ini hasilnya didapat dalam waktu 1 dan 2 jam karena ada dua lab yang berbeda. Waktu pertama kali gw karantina, gw harus nunggu hasil di bandara sebelum diangkut ke hotel. Tapi karantina k

Ujian hari senin

Kejadian ini terjadi tepat senin minggu lalu. Baru kali itu aku merasa 'WOW.. ini senin yeay'. Karena biasanya 'haduhh udah senen lagi'. Kebayang kan kalo seneng begitu dihari senen menyambut pagi dan hari itu rasanya langka banget. Otomatis pengennya hari itu berlangsung indah. Jam setengah 9 pagi, seperti biasa ke pantry ambil minum bareng sama temen sebangku. Dia bikin teh, aku nyuci botol sekalian ngisi dong. Seperti biasa juga, kadang aku males sih nyuci botol dengan ritual lengkapnya, akhirnya cuman bilas pake air panas. Ya mungkin nggak sampe 50 ml juga. Dikit banget deh. Temen juga selalu bersihin gitu gelasnya pake air panas. Pic source is here Eh lakok lakok... si bapak pantry yang serem itu tiba-tiba bilang 'Gak bisa ya gak nyuci botol pake air panas? Tiap sore itu banyak komplain gara-gara airnya abis'. Yakaliii air abis tinggal isi aja, ibu yang dulu aja nggak pernah ada komplain. Ya aku bilang lah ini cuman dikit, lagian yang ngelakuin ini