Skip to main content

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Nyepi ke-4 di Bali

Taken at 3am-ish

Tahun ini adalah tahun ke-4 gw nyepi di Bali. Ketagihan banyak Nyepi di Bali. Tahun ini juga semua serangkaian Nyepi terasa kembali normal. Normal dalam artian, kegiatan yang berhubungan dengan Nyepi sudah mulai dilaksanakan secara utuh. Karena 2-3 tahun sebelumnya masih nggak 100%, kali ini jauh lebih meriah. 

Upacara dimana-mana. Jalanan ditutup, diputar, dimana-mana. Melasti yang bisa aja kalau kalian nggak tau ya "kejebak" macet. Gw nggak suka keramaian, tapi prosesi-prosesi kejutan yang gw nggak sengaja liat di jalanan tuh menyenangkan sekali. Riuhnya kerasa buat gw. 

Big offerings

2-3 tahun lalu, seingat gw ATM tuh tutupnya H-1 Nyepi tapi jam-jam sore. Tahun ini jam 10 pagi ATM udah mati semua. Tahun ini juga gw tiba-tiba perlu urus visa yang mepet Nyepi, dengan janji temu hari kamis. Hari kamis ini masih ngembak geni, kegiatan belum ada yang 100%. Kalaupun ada pasti bukanya di atas jam 10 atau jam 1 siang. 

Gw perlu print beberapa dokumen terakhir yang berkejaran dengan waktu, jadi gw harus booking dan cetak agak telat, tapi nggak telat-telat banget karena gw harus cepet-cepet print dokumen gw. Gw juga belum ambil cash karena gw kiranya "Ah bisa lah ntar H-1 aja ambilnya." 

Keluar rumah jam 1 siang dengan harapan print masih buka karena beberapa hari lalu gw tanya mereka masih buka apa gak H-1, dan mereka bilang masih buka. Ya buka mungkin cuma sampe jam 10 -_-. Untungnya masih ada tempat lain yang gw bisa cetak di sana. Satu masalah usai, lalu muter sedesa buat nyari ATM yang masih buka. ATM kecil udah pada tutup dan mati semua. Temen gw nyaranin ambil di Mandiri gede deket rumah. Yaudah gw kesana, untungnya masih buka dong. 

Sanur

Mana agak deg-deg an juga karena takut tetiba ATM nya mati kan. Ambil sekian, bisa. Eh pas ambil dengan nominal yang sama lama banget trus nggak bisa. Yaudah kurangi setengah nominal baru bisa lagi. Antrian di belakang gw jadi panjang banget. Sampe gw parkir motor aja melintang banget karena takut nggak dapet bagian. 

Acara ambil duit beres. 

Tapi esoknya, saat Nyepi, ohmy! Menyenangkan sekali. Internet di hp sama seperti tahun sebelumnya, dimatikan. Tapi untuk wifi masih nyala. Jadi buat yang nggak ikut prosesi nyepi secara ibadahnya ya masih bisa lah pake internet. Hari itu cuacanya adem banget, mendung, sempet gerimis siang menuju sorenya. Anginnya semilir enak banget. Sungguh cuaca yang sangat menenangkan hati.

Taken at 8pm

Sepanjang hari berdoa agar langit malam terang, eh alhamdulillah puji tuhan langitnya cerah banget. Jam 8 malem gw ambil foto langit, milkyway-nya keliatan dengan mata telanjang. Memang nggak sejelas di foto tapi beneran keliatan riaknya. Setelah itu gw juga coba ambil jam 3 karena malem pertama sahur juga, malah lebih bagus banget langitnya. 

Bener-bener nggak nyesel banget gw beli tripod buat HP yang sengaja gw beli buat persiapan Nyepi. Karena ya ngambil foto milkyway nggak gampang, shutter-nya panjang juga, nggak boleh goyang juga biar gambarnya fokus. Tombol bluetoothnya bisa dipakai juga. Gw beli yang 160 cm tingginya. Bagian pegangan HP nya juga fleksibel diputernya, nggak kaku sama sekali. Ukurannya kalau dilipet nggak gede-gede banget, kalau dipakai utuh 160 cm kerasa banget kokohnya.

Daripada gw harus ndongak kan ya, sakit leher 😅

 

Tripod Mixio

Nyepi tahun ini berasa kejar-kejaran banget. Kayaknya gw udah siap semuanya tapi kok ternyata ya ada aja yang ketinggalan. 

Matahari keesokan hari bener-bener manis banget. Buat gw, terbitnya matahari di hari setelah Nyepi yang menandai awal mula tahun baru. Selamat tahun baru 1945.

Sunrise the day of Nyepi 1945

Sunrise the day after Nyepi

Well... lesson learned. Never postpone important things! And it is recommended to try spending Nyepi night in Bali, especially if you are big fan of stargazing. Trust me, it's worth it!

Comments

Popular posts from this blog

Sepatu Winter Pertama

Moscow Dulu, masih sempet pakai sepatu dengan hak 5 cm waktu kerja kantoran. Ya karena harus keliatan formal aja sih, meskipun nggak ada yang ngelarang juga kalau mau sepatu sneakers pun. Toh juga waktu kerja sepatu dilepas dan pakai sendal jepit.  Tapi itu sudah lama sekali. Setelahnya, bertahun-tahun hanya punya 1 sepatu sneakers dan 1 sandal. Sendal jepit punya lah ya, kan hidup di Bali. Salah satu esensial itu. Sebenernya alesannya sederhana, bukan karena nggak mau punya sepatu lebih dari satu tapi lebih ke males harus nyocokin sepatu lagi ke kaki yang belum tentu enak dipakainya.  Sepatu itu adalah hal esensial yang buat gw nggak apa mahal yang penting nyaman. Karena taruhannya di pijakan, dan itu bisa berdampak ke banyak hal kalau salah pilih sepatu. Jalan kaki adalah bagian besar dari hidup gw, jadi punya sepatu nyaman adalah hal yang tidak bisa dinego.  Nah, meskipun gw beberapa kali pernah jalan-jalan saat musim dingin, Moskow ini agak beda. Kalau di Belanda, mes...

Getting my Hands on Film Camera

In attempts to slow_myself_down_away_from_digital_life, I am getting my hands on film camera. Yes, the kind of camera where you need to put the film roll in and then start snapping. If you are lucky, the pictures will turn up good but if not then we let the fate decide. This is not my first rodeo on using film camera, but it definitely is the first ever to buy the film and develop it using my own money. It is not cheap, which I know.  What can I say, it's an expensive hobby.  I used my first film roll to take photos of my favorite people. So it has more human than random pictures. It was on family event. After the last shot, I wanted to develop it before I flew to Bali but they had no lab. Luckily we have the lab in Bali. I developed and scanned the film in Ojisanfilmlab Bali. They're just a google away. They sell the roll as well. I had to tell the TSA to do the hand checking rather putting it through the scanner. They understood.  Cimol hides himself in his favorite sp...

[Piknik] Jejak sejarah di Malang

Beberapa bulan yang lalu ketika si mas ke Bromo, dengan waktu yang mepet banget, akhirnya kita niat jelajah singkat jejak sejarah di Kota Malang. Biasa lah ya, dia selalu bawa buku panduan. Selain nerd, dia juga nggak mau oon ketika dia berada di suatu tempat baru. Dia terlalu nggak percaya sama kemampuan sejarahku akan kota Malang, karena pasti kalo nanya sejarahnya yang aku tahu paling juga nggak jauh-jauh dari lapak baju buku murah. Sejarahnya, tanyain mbah mbah jaman dulu dah. kantor balaikota Malang Perjalanan kita mulai dari hotel Tugu. Kita mulai dari naik becak. Tadinya saya kira aja sampai seratus ribu ya nganter ke daerah pasar besar (alun-alun kotak), eh ternyata cuman 30ribu. Terheran-heran juga kok, ini muka bule nggak dimahalin?? Derita punya partner bule, harga dibedain.   dari sampul sih nggak beda banyak, tapi begitu buka dalemnya...hmm kalah deh cetakan Indonesia sama cetakan luar negeri buku ini bagus kok, ada peta-peta jelajahnya juga Malang saat...