Merenungkan Islamnya Diri

8:22 PM



best shot by HJ

Nggak tau kenapa, ada banyak hal yang menjadi pertanyaan dan perbedaan ketika melihat nafas Islam di Dubai. Memang sih, menunjukkan kemesraan depan umum akan beresiko dipenjara (hanya berpegangan tangan saja yang masih bisa dimaklumi). Tapi terlepas dari hal itu, saya merasakan ada rasa damai dalam beribadah. Tulisan di bawah ini nggak bermaksud mendebat siapapun. No offense buat yang nggak setuju ya 😁

Aneh ya, disini yang katanya negara dengan penduduk muslim terbesar, saya masih sering merasa 'nggak aman' dalam menjalani ataupun berpendapat 'sedikit' berbeda dengan orang kebanyakan. Saya takut suara saya tentang perbedaan bisa menimbulkan perpecahan haha! Dan saya pun menjadi lebih takut asal bicara karena ternyata ada banyak hal yang saya lontarkan tak lain hanyalah sebuah ego semata. bukan kebenaran yang harus dilontarkan.

Saya belajar diam. Bukan berarti menutup diri dari kebenaran. Tapi diam untuk merenungkan apa hakikat kebenaran yang sejatinya. Saya pun sudah lebih sering berhenti untuk 'menghakimi' hal yang menurut saya benar (dalam hal ini agama) kepada sesama.

Dubai mungkin bukan negara seperti Saudi Arabia. Mungkin hukum keislaman di Dubai agak sedikit longgar atau entahlah. Tapi setidaknya saya bisa merasakan nafas Islam yang berbeda disana. Terlepas dari karakter para Arab yang kadang bikin jengkel juga ini.

Dulu pernah dikirimi HJ adzan yang ada di Dubai Mall. Luar biasa enaknya. Record ya, saya kira smua tempat juga sama kalau recording. Nah di bandaranya pun ada adzan, suaranya sama. Tapi meskipun recording suaranya bener-bener bikin saya ketagihan. Baru kali ini lho saya ketagihan dengerin adzan lagi dan lagi. Indah banget super banget. Nah pas di Abu Dhabi, ke masjid yang aduhai cantik bener itu, kita datang sebelum maghrib, jadi biar kita bisa sholat maghrib disana. Adzannya Ya Allah enak banget. Sumpah demi apapun, saya ketagihan. Kayak ketenangan aja yang ada pas kita denger adzan. Luar biasa. Nggak bikin orang malah marah-marah kek adzan deket rumah yang bener-bener emosi banget kek nelen microphone gitu. Plus disana sebelum adzan pun nggak ada yang namanya baca-baca apa sih itu selama 30 menit kayak yang ada disini. Adzan ya adzan aja, begitu adzan selesai, langsung sholat. Nggak pake nungguin orang atau dikasih pujian nyanyi-nyanyi gitu. Jadi orang cenderung dateng lebih dulu ke masjid kalo nggak mau ketinggalan sholat berjamaah.

Syeikh Zayed grand mosque Abu Dhabi, taken by HJ

Cadar itu budaya Arab. Dari dulu saya selalu bilang seperti ini, bahkan untuk putusan aurat itu hanya wajah dan tangan (atau ada putusan lain yang berbeda yang saya yakini juga), saya masih bisa bilang kalau cadar itu budaya Arab. Kenapa? Saya datang ke Dubai musim panas. Di Dubai hanya ada dua musim, musim panas dan musim sangat panas. Suhu kemarin yang kita rasakan sih hanya 43 derajat (but feels like 49, jadi secara teknis kita ngerasain 49 derajat). 49 derajat dengan humidity level nya mencapai lebih dari 60%. Pernah ke Surabaya? Yang level humidity nya mencapai 98% meskipun suhu nya berkisar 33 derajat maksimal? Surabaya itu panas, tapi bearable. Dubai itu sangat panas, the hottest time of the year ya musim ini bulan ini. Jadi kita datang saat musim panas banget. Rasanya? Celekit-clekit, udah panas menggigit, humidity level-nya yang juga tinggi jadi berasa seperti masang kipas angin tapi yang dihembuskan itu api. 4 kali lipat dari panasnya Surabaya yang paling panas. Caranya menghindari panas? Ya nggak jalan kaki. Apa-apa naek mobil atau taksi, karena harga bensin satu liter cuman 1,75 dirham atau sekitar 3000-4000 rupiah aja. Tarif taksi juga super murah untuk kota yang super mahal seperti Dubai. Kalau terpaksa jalan sebentar gimana? Ya Pakai cadar. It works!


Jadi cadar itu bener-bener membantu kita dari terpaan angin api. Pakai baju panjang-panjang juga sangat membantu untuk suhu luar biasa sehangat bakso semangkok. Ada yang bilang, "apa nggak panas malahan pake baju panjang trus cadaran gitu?", bahasa Jawanya : Ongkep gitu. Hemmm justru itu melindungi diri dari terpaan angin panas dan juga sengatan matahari yang super panas.

Kebayang kan jamannya nabi dulu kalo nggak cadaran gimana rasanya? Belom lagi kalau pas di gurun (jaman dulu I believe masih berupa gurun semua ya), yang sebentar-sebentar angin berhembus bawa pasir. Mini badai pasir, sebut saja seperti itu. Itu rasanya luar biasa nyolok-nyolok mata. Jadi mungkin pakai cadar aja nggak cukup, jadilah mata juga harus ditutup kan. (kita pas desert tour pake kacamata plus cadar).

Satu orang laki-laki jalan dengan 3-4 istri disana itu hal yang biasa. Saya sangat tidak mengidolakan poligami apapun itu bentuknya. Jika memang ingin poligami, coba renungkan terhadap diri sendiri dulu apakah memang iya kamu sanggup melakukannya? Apa iya kamu bisa adil? Apa iya imanmu cukup untuk membimbing istri-istrimu? Percuma bilang poligami karena agama memperbolehkan tapi ternyata iman dan islam kamu masih jauh dari cukup, ibadah aja bolong-bolong, penghasilan bahkan nggak cukup untuk diri sendiri. Islam itu memudahkan. Jika memang cukup dan hanya sanggup dengan satu istri, knp harus memiliki lebih yang justru makin membuat sengsara?

Oke, memang iya di negara-negara Arab cenderung memiliki istri lebih dari satu (bahkan di Afganistan negara perang sekalipun, mungkin banyak janda yang harus dilindungi karena suami mereka meninggal. tapi untuk kasus ini kita bahas negara normal dan tanpa perang). Di Dubai, siapapun yang menikah akan mendapatkan tunjangan tambahan, apalagi kalau punya anak otomatis tunjangannya nambah lagi. belom lagi kalo pengen sekolah sampai jenjang Phd dimanapun akan dibiayai negara. Kemanapun lho ini, ke negara yang paling mahal sekalipun. Dari jumlah total penduduk di Dubai, hanya 11% yang benar-benar warga asli. Sisanya expat. Bayangin aja, lebih dari 70% adalah expat yang bekerja agar roda Dubai berputar. Istilahnya 11% orang ini nggak kerja sekalipun masih bisa idupnya disokong negara. Ya nggak? (Ya walaupun ada juga yang miskin mungkin di beberapa bagian dikota ini). Jadi kalau menikah membuat mereka mendapatkan tunjangan lebih, ya kenapa nggak buat beristri 4? Itu dari sisi ekonomi. Dari sisi agama, saya yakin pemahaman mereka lebih dalam tentang itu. Lagi-lagi ini terlepas dari karakter mereka yang mungkin nggak bisa kita terima.

Jarang ada wanita jalan sendirian di jalan. Bahkan jarang sekali melihat wanita diluar ruangan jalan santai gitu (cuma gw aja nih meskipun nggak santai). Selain karena panas, dalam agamapun dianjurkan bagi wanita untuk bepergian sendirian. Kesannya nggak sante amat sih jalan sendiri aja nggak boleh. Tapi saya merasa lucu aja, pas diluar cuma saya yang sendirian dan merasa bego karena ternyata antrian cewek dipisah dari cowok. Dan pasti tau kan kalau semua mata tertuju pada saya.... bukan karena saya cantik mempesona mereka tapi saya salah posisi karena kebodohan haha! Ada gerbong khusus wanita, di Indonesia juga ada ya, tapi ini yang bikin HJ amaze. Karena di negaranya nggak ada gerbong misahin cewek begini. Saya pernah baca sih di Saudi, wanita diperlakukan spesial karena menurut agama pun wanita posisinya spesial, seperti antri sepanjang apapun selama kamu adalah cowo dan antrian berikutnya adalah cewek, kamu harus kasihkan antrian kamu ke cewe itu. Ini dialami HJ yang antriannya tiba-tiba diambil wanita bercadar di Dubai). Jadi ini saya anggap cara mereka memperlakukan wanita aja yang spesial. Dan membuat kita merasa aman.

nggak ada yang bakal marahin sambil nunjuk pake telunjuk kalo leher dan rambut keliatan serba bilang 'KAMU SALAH!'

Saya pun merasa aman karena nggak akan ada yang dengan pedenya negur saya karena (misal) jilbab saya yang nggak bener, atau baju saya yang ga semestinya, atau sholat yang terlihat agak beda di beberapa bagian. Satu hal aja sih yang selalu membuat saya diperhatikan mereka, saya berjilbab normal dan memakai celana jeans bahkan, dan itu aneh bagi mereka yang tidak memakai celana. Cuma ada sih satu hal yang agak mengganggu di hari pertama kita masuk mall, ada lelaki arab berbaju arab, melihat saya dengan HJ yang sedang jalan bergandengan. Seperti dilihat dari atas sampai bawah bahkan sampai kita menghilang dari pandangannya. Posisi kita ada di eskalator yang berbalikan arah. Dugaannya HJ : dia liat orang kulit putih jalan dengan wanita muslimah tapi berpakaian normal berhijab, bukan baju gamis atau burka (karena banyak dari mereka mikir kalau kulit putih sama muslimah itu normalnya muslimah yang bajuan gede-gede). Dugaanku : tuh orang kepo amat sih, nggak pernah liat orang asia sama orang kulit putih apa ya 😂 (sungguh dugaan orang berakal dangkal). Soal jilbab pun, mereka emang pake baju gede-gede yang saya yakin itu bener-bener malah isis banget (adem dipakenya), dan jilbabnya bener-bener tanpa jarum. Banyak yang pake selendang cuma dibulet-buletin aja di kepalanya, kalau rusak ya dibenerin lagi nggak usah ngumpet-ngumpet takut ada yang liat rambutnya. saya yakin sih disini jilbab berperan sebagai penghalau pasir gurun yang kalau udah nyerang rambut duhhhh sebelnya minta ampun. Nggak enak rasanya.


nggak ada lah ceritanya wanita muslimah disana pake celana ketat macem gini, yang ada pake celana pun yang longgar. Nggak di nyinyiri kok, cuman diliatin aja. Mungkin merasa aneh dan unik. Taken at historical old place Al Fahidi

Selalu benar kata pepatah, semakin kau tau banyak maka semakin kau merasa  tidak banyak tau. Semakin berilmu, semakin merunduk orang. Now I know.

You Might Also Like

0 komentar

Let me know what you think about mine ~ Share it here