Jayalah Para Koruptor Negeri!

4:19 PM



 
pic taken from sea-globe.com

Hmm.. saya tidak terlalu senang dengan keputusan memenjarakan Ahok. Saya melihat hal ini lebih kepada politik, bukan soal agama. Ada yang mengatakan bahwa saya tidak membela agama saya sendiri ketika ‘katanya’ agama saya dinistakan. Well.. jika memang hal ini lebih kepada penistaan agama, kenapa hanya Ahok saja yang diproses hukum? Bagaimana dengan para pembakar kitab suci diluar sana? Atau… bagaimana dengan para penista agama lain? Penghina agama lain? Ada lho orang jalur keras yang menghina agama lain. Bukan berarti saya tidak pernah membandingkan agama saya dengan agama lain, saya mengkaji bersama teman saya, mengambil sisi mana yang sama dan sisi mana yang beda, dan itupun hanya untuk konsumsi pribadi. Tak lantas mengagung-agungkan agama saya dan merendahkan agama lain. 

Mungkin benar, bapak Ahok ini tutur katanya ceplas ceplos, cas cis cus, kalo kata orang nggak dipikir dulu itu menyakiti orang lain apa tidak. Tapi kalo saya menjadi gubernur, bisa jadi saya menjadi orang yang seperti beliau. Karena sekalinya saya melihat hal yang tidak pantas dan tidak sesuai, saya akan marah. Seketika. Nggak perlu nunggu lama. Ah tapi hal itu bisa diperbaiki. (dan untung saja saya tidak menjadi gubernur, bisa jadi nasib saya seperti beliau)

Hal ini semakin berat dengan adanya isu sara, yang banyak orang yang tidak suka dengan Orang Cina. Hello…. Kenapa kalian nggak suka dengan orang Cina? Apa karena trauma dengan kejadian masa lalu? Emang ada ya yang namanya dosa turunan? Semisal nih nenek kalian yang bersalah dan berdosa dimasa lalu, lantas hingga saat ini kalian masih menerima resiko atas dosa para pendahulu kalian? Nggak adil kan?

Saya tidak bisa mengatakan pendapat saya ini benar. Bisa jadi benar, tapi bisa jadi juga salah. Saya hanya mengungkapkan sudut pandang saya melihat hal yang agak menjijikkan ini. 

Mari kita bergeser ke sudut pandang politik. Kata orang Jakarta, si bapak Ahok ini orangnya bersih. Beberapa pos yang becek sudah mulai dipadatkan kembali ke sedia kala. Kalau di Surabaya ini Bu Risma lah yang banter memerangi korupsi. Kata nenek saya yang tinggal di Jakarta, Jakarta menjadi lebih beres ketika Ahok memimpin. Menjadi lebih teratur. Tak ada lagi pungli. Manusia tidak ada yang sempurna, semuanya juga tau, tapi dari sini saya bisa sedikit menyimpulkan kalau si bapak Ahok ini orangnya bersih, anti korupsi. 

Yang susah siapa? Ya koruptor lah jelas. Berapa perbandingan jumlah koruptor dibandingkan dengan jumlah orang yang bersih? Saya belum pernah mengadakan riset sih, tapi mungkin…. Satu banding sekian puluh? Satu banding sekian ratus? Atau satu banding sekian ribu?

Ada pernyataan dari seorang yang dianggap orang ‘alim’, beliau mengatakan lebih baik memilih koruptor daripada memilih pemimpin non islam. Bagi orang muslim, mungkin memang lebih diutamakan memilih orang muslim terlebih dahulu, tapi bagaimana jika orang muslim tersebut koruptor? Akankah anda memilihnya? Kalau saya, jelas tidak! 

Pos mana saja yang rentan korupsi? Tentu saja semua pos. Pos penyelenggara haji kala itu ketauan korupsi besar-besaran, pos untuk bikin kitab suci juga katanya, pos bikin e-KTP juga sudah ketahuan (btw, KTP saya udah rusak sak sak, jangan-jangan itu juga hasil dari korupsi???), dan saya yakin masih banyak pos lainnya yang memelihara banyak tikus disarangnya. 

Kembali lagi ke pemimpin yang bukan non muslim. ‘Jangan pilih pemimpin non muslim!’, begitu katanya. Tapi sekarang coba kita geser pantat kita menuju Bali. Apakah pemimpin Bali (sebut saja gubernur) adalah orang muslim? Bapak I Made Mangku Pastika bukanlah seorang muslim. Mungkin akan ada yang menjawab ‘tapi kan Bali memang nonmuslim, banyak hindunya’. Tapi di Bali pun ada orang muslim meskipun kecil. Bagaimana dengan nasib mereka? Haruskah mereka protes dan memilih pemimpin muslim? Bagaimana dengan gubernur Nusa Tenggara Barat? Papua? Maluku? Dan bagian lainnya Indonesia? Kalau memang kalian protes memiliki seorang pemimpin haruslah seorang yang beragama islam, kenapa tidak ada yang protes untuk daerah lain? 

Menyoal tentang ras, meskipun beliau seorang keturunan Tionghoa, beliau tetaplah seorang WNI. Kecuali jika beliau datang dari China menuju Indonesia khusus untuk mencalonkan diri menjadi gubernur Jakarta. Bunuh Diri itu namanya. Jika hal ini tentang ras, Bapak Henk Ngantung adalah seorang nasrani keturunan Tionghoa yang menjadi gubernur Jakarta dimasa Soekarno. Geser yuk, ke seseorang yang bernama Abdurahman Wahid atau yang lebih ngetop dipanggil Gus Dur. Beliau itu keturunan tionghoa lho. Jadi presiden lagi. 

Ada seorang kawannya kawan, tak ada angin tak ada pula badai tiba-tiba ‘curhat’ dan berbicara hoax kepada teman saya. Ujungnya dia yang notabene seorang ‘alim’ ini menghina agama lain dan ras keturunan tionghoa ini. Saya merasa ngeri. Dia bersekolah tinggi, tapi sayangnya dia tidak berpendidikan. Manfaatnya menghina keturunan tionghoa itu ya apa?? Toh banyak dari mereka yang berjasa bagi negeri ini. 

‘Hal yang memberatkan diantaranya terdakwa tidak merasa bersalah, perbuatan terdakwa telah menimbulkan keresahan dan mencederai umat Islam serta perbuatan terdakwa dapat memecah kerukunan umat beragama dan antar golongan’. Begitu kata pak hakim yang terhormat. Bapak hakim yang terhormat, perlukan saya mengatakan bahwa yang dapat memecah kerukunan umat beragama dan antar golongan adalah provokasi yang dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab?

Membaca pernyataan hakim tersebut membuat saya merasa tidak aman dinegeri saya sendiri. Pasangan saya pun mengatakan demikian. Orang dengan mudahnya menghakimi orang lain yang tidak sependapat dengannya. Jangan salahkan kami yang merasa terancam di negeri sendiri, akan lebih memilih bermukim di negeri lain yang menjamin keselamatan dan ketentraman pribadi.

Yang paling berbahagia dari kasus Ahok yang dipenjarakan ini tak lain dan tak bukan adalah kaum koruptor, dan kaum follower alay. Well… satu orang bersih masuk jeruji besi, otomatis para penggiat ‘uang masuk kantong pribadi’ pun senang karena aksinya masih akan bisa dilanjutkan hingga malaikat maut menyapanya. 
 
Kadang saya sering bermimpi disiang hari. Memikirkan kapan negeri ini benar-benar merdeka. Dari kebodohan, dari korupsi, dari keterbelakangan mental, dari segala hal yang justru semakin menjatuhkan negeri ini.

Ingatlah, kita ini Indonesia, bermacam-macam suku, ras dan agama, yang berbasis Pancasila. Bukan berbasis Islam yang diperuntukkan satu ras.

You Might Also Like

4 komentar

  1. jujur, saya memang cukup kecewa sama pak ahok mbak
    seandainya beliau bisa jaga ucapan. sayang banget.
    cuma, yang lebih saya kecewakan ya kenapa masalah ini kok jadi gak selese2, malah merembet ke mana2
    masalah yang seharusnya bisa diselesaikan dengan baik2
    karena bagaimanapun, Pak Ahok juga berjasa banget
    kerasa klo ke JKT sebelum dan sesudah Pak Ahok
    tapi balik lagi. ini politik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mas. orang pasti pernah lah keselip lidah. orang baek lah sekalipun. tp ya itu tadi. efeknya makin menimbulkan isu yang lainnya. tadinya cuman satu mslh eh jadi makin panjang.
      politik ohhh politikkk

      Hapus
  2. Era politik gini memang sulit menebak mana yang power ranger mana yang monster. Keliatannya sih semuanya mau jadi power ranger.

    Tapi setahu saya anak-anak yang ingusan dan beberapa orang yang bakar kitab itu memang dipenjarakan mbak.

    Salam kenal mbak Prisca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. go go power rangerrrrr....

      bagus lah kl emang udah diproses. biar hkum gak timpang. semisal pencuri sendal hukumannya 4,5taun la yang korupsi belasan milyar juga dipenjara 5 taun

      salam kenal juga mas wahyu :)

      Hapus

Let me know what you think about mine ~ Share it here