Skip to main content

Merah Putih

Gw sama Indonesia itu ibarat dua sejoli dalam love and hate relationship. Gw terlahir di tanah yang diperjuangkan orang-orang terdahulu. Nggak keitung berapa juta nyawa hilang untuk itu. Gw bersyukur gw nggak perlu lagi bawa bambu runcing untuk merebut negeri ini dari tangan penjajah. Sejak sebelum nikah gw mulai "berteman" dengan birokrasi dua negara. Birokrasi dari Belanda, tentu saja tidak seribet birokrasi di negeri ini. Segala macam email akan segera dibalas dan dibantu untuk dihubungkan ke pihak terkait atau yang menangani itu. Bahkan untuk permintaan Schengen visa tipe kunjungan keluarga di masa pandemik ini diberikan high priority dan email dibalas dalam sekejap. Sedangkan di Indonesia, aaahhh yaaa gitu dehh.

Tapi, nggak akan pernah gw pungkiri tiap kali gw denger lagu Indonesia Raya gw selalu mewek. Tiap kali liat bendera Indonesia, gw diam sebentar  berterima kasih atas nikmat bisa tinggal di negeri ini tanpa perlu memegang senjata. Gw bener-bener marah saat suami g…

Drama Menuju Singapore


 
si koper merah yang baru pertama kali dibawa jalan

Halo! Lama vakum, ntah lama apa nggak sih, pokoknya lebih dari seminggu nggak nulis yaa…
Jadi, dua hari setelah resign, aku cus ke Singapor. Ngapain hayooo??? Nyari soto paling enak HAHAHAAHA. No no, kita bikin visa sosial budaya buat HJ. Kita berdua ketemuan di bandara gede di negeri seberang. 

Ada drama? Ya ada lah! Jelas!

Ceritanya saya nggak ambil direct flight dengan alasan kebanyakan direct flight jam 6 pagi. Trus gw harus ngemper di bandara pagi buta gitu?? NO WAY! Akhirnya pilihan jatuh ke tangan Garuda Indonesia dengan jam terbang jam 8 pagi dari Surabaya ke Jakarta, jam 11 dari Jakarta ke Singapore. Ya transit terpaksa, daripada jam 3 subuh udah harus bangun trus mlipir ke bandara. No way lah yau

Pas mau cetak boarding pass, tetiba mbaknya bilang ‘Mbak, nggak beli tiket balik?’, nggak mbak. ‘Kerja disana?’, nggak juga. ‘Hemm.. gimana ya mbak ya, kalo ke Singapore harus beli tiket PP mbak, atau kalo ga gitu ya nggak bisa berangkat’. Mampus lho, hayooo gimana nih. Akhirnya saya pun diarahkna menuju konter GA untuk membeli tiket balik. Kenapa saya belum beli tiket balik? Karena saya nggak tau kapan kelarnya si visa ini. Kan sayang kalo sampe salah jadwal. Diarahkanlah saya yang lugu ini untuk membeli tiket GA yang bisa reschedule, dan taraaaaaaaaa 4 juta saudara. Duhhh nggak ah. Trus nanya ke mbaknya bisa nggak pake vendor lain dan akhirnya bisa. Yaudah langsung booking tiket Jetstar 900ribu. 

Bookingnya pun asal, dikira-kira, kalo toh salah jadwal yaudah deh cuman 900ribu meskipun itu juga udah mahalllll. Wes pokoknya bismillah aja lah. Baru setelah booking tiket balik, boarding pass saya dicetak. Sampe saya sarapan pagi disana, saya mikir, ‘ini beneran regulasinya begini? Takut bener kita mau nyusup’ hahahahahaha

Terus… sampe di bandara ya, check in tho, check koper ya, tetiba ‘Ini koper merah punya siapa? Dibuka dulu ya’. Lahhhh masa iya aku bawa barang berbahaya sih. Ternyata ehhhhh gunting yang rencananya buat gunting-gunting fotokopian ato apa itu, disita. ‘Maaf ya mbak, nggak boleh bawa ini ke kabin’. Oemji, aku ya lupa kalo aku bawa cabin baggage, jadi kan masih kudu screening kan. Yawes lah kurelakan guntingku. 

Satu jam kemudian….

Udah ngelewatin imigrasi dong, di Soekarno Hatta, lagi-lagi cek koper ya. Tiba-tiba, ‘Oke, koper merah tolong dibuka! Ada apa itu bawa apa itu besar-besar’. Kali ini yang jadi korban adalah kosmetik. Ceritanya kulit saya itu kering yang butuh losion sepanjang waktu. Jadilah saya bawa losion saya yang paling gede meskipun itu isinya udah kurang dari 100ml. bener-bener udah tinggal dikit dan nggak sempet mindah ke botol leboh kecil, diambil sama petugas. Hemmmmm. Trus dia mulai cek cek parfumku yang baru aja dibeli seminggu sebelumnya. Untungnya nggak beli yang gede. Itu deg deg juga, ‘aduh smoga ga diambil, itu parfum mahallll’. Ternyata lolos. THANK GOD! Sunblok juga lolos, itu belom dipake sama sekali dan ukurannya lumayan waspada. Udah dagdigdug aja kalo mereka ambil barang yang belom dipake hahahaha

2 jam terbang… akhirnya sampai juga di Changi. Queue up di imigrasi sana, dari jauh udah keliatan si tambatan hati. Finally… touch down Singapore! The busiest month in my life has begun. I will post it one by one.

Comments

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

[Book] Dunia Cecilia

'apakah kalian membicarakan hal semacam itu di surga?' 'tapi kami berusaha tidak membicarakannya dekat-dekat Tuhan. ia sangat sensitif terhadap kritik'
Yap, sepenggal dialog antara Cecilia dan malaikat Ariel. Saya mengenal Jostein Gaarder sejak kuliah. Ehhhh 'mengenal' dalam artian kenal bukunya ya, kalo bisa kenal pribadi mah bisa seneng jingkrak-jingkrak hehehe. Jadi karena teman saya mendapat tugas kuliah membaca satu novel filsafat berjudul Dunia Sophie, saya jadi sedikit mengetahui si bapak Gaarder ini. Enak ya tugasnya anak sastra baca novel, tugas anak matematika ya baca sih, tapi pembuktian kalkulus -_-



Dunia Cecilia ini buku pertama Jostein Gaarder yang saya baca, karena buku Dunia Shopie sangatlah berat berdasar review teman saya. Saya sih nggak perlu baca buku itu karena teman saya sudah benar-benar mahir bercerita. Jadilah saya sudah paham bener cerita Dunia Sophie tanpa membacanya.

Novel ini atas rekomendasi teman saya, dia bilang kalau novel ini ri…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…