Skip to main content

Mengalahkan Rasa Takut akan Tenggelam

Makanan setelah renang di KOOD Sanur (serba vegan) Dari dulu takut banget sama air dengan volume yang besar. Mungkin di kehidupan gw sebelumnya gw pernah tenggelem kali ya. Makanya nggak pernah bisa renang. Karena ya takut tenggelam. Bahkan sekedar kecipak kecipuk aja takut. Sampai pindah ke Bali. Pindah ke Bali nggak berekspektasi setinggi itu sih. Ternyata, jadi lebih sering main air di pantai. Nggak renang, cuma berendam aja. Lama-lama jadi kebiasaan dan udah mulai terbiasa dengan air. Ternyata seru juga yaa. Kemudian dilatih suami gw buat berani snorkeling. Iya takut awalnya, nggak percaya meskipun dia bilang nggak akan tenggelam karena pake fin. Hmm masaaaa~~ Ya tetep pake pelampung sih. Pertama kali nyemplung, tentu saja heboh takut tenggelam padahal udah pake pelampung, pake fin, mana dipegangin juga. Tapi heboh aja, takut tenggelem. Ada 3 spot waktu itu, gw cuma nyemplung satu spot aja belum juga 15 menit udah naik kapal. Beberapa kali snorkeling akhirnya baru berani lepas pela

Turunan Bangsawan




Setelah menemukan celah untuk berhubungan kembali dengan keluarga Belanda, meskipun tidak semua keluarga yang ada disana sih, aku cerita dong ke papanya HJ. Eh papa jadi penasaran juga, akhirnya nanya nama familie nya apa. Karena nggak tau nama opa, akhirnya tanya ke mami. Dikasih tau lah kita nama marganya. 

Nama kakek buyut itu Arnold Carl von Bannisseth, nama nenek buyutnya yang aku lupa. Nama kakaknya mami itu Erich Carl von Bannisseth dan nama mami sendiri Rita von Bannisseth. Yang pada akhirnya nama mami berubah menjadi Rita Herawati Samsuri. Samsuri ini nama bapak sambungnya mami setelah bapak kandungnya meninggal. Meskipun di buku nikahnya mami masih pakai nama von Bannisseth.

Papanya HJ bilang kalau nama von ini dari Jerman, masih ada turunannya bangsawan. Wihhh seketika tau itu, aku langsung ngakak lho. Ngakak sejadi-jadinya. Sampe aku bilang ‘Yaudah pa nggak papa, anggep aja aku emang turunan bangsawan’, soalnya papa bilang ke aku kalo kayaknya aku ini duches. Yang kayak gelarnya Kate Middleton itu lho. Apa ya nggak makin ngakak aku  hahahahha

Disisi lain, dari alur keluarganya papaku sendiri, kakeknya masih ada darah kesultanan apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa gitu. Nggak jelas dah, yang tau persis ini ya kakekku, tapi kakekku udah meninggal jadi nggak bisa dikorek lebih lanjut.

Jadi, simply said, gw ini turunan bangsawan tauuukkk!!! Kalo kata mamiku, ‘Iya emang bangsawan, bangsane tangi awan’ hahahahhahahahahaha. Itu aku banget sih

Note : bangsane tangi awan itu cara mamiku bilang ke aku golongan orang yang doyan bangun siang, yang mana itu adalah benar adanya hahahaha


After my mum knew her grandfather name, she said to me ‘if you have son, you can name it Arnold Carl. It’s a good name to remember him as a part of us’ …. Nggak ada salahnya juga sih 😄 besides, I will put HJ mother’s name if I have daughter 😄

Comments

  1. Kalo aku bukan turunan lagi mbak. Memang bangsawan


    Pangeran Riza....


    Wkwkwkwk

    ReplyDelete
  2. Ternyata gak kalah sama mss Kate Middleton ya. Enak Kalo masih ada keluarga yang bisa ditanya dan ditelusuri gitu asal usulnya. Kalo aku dah nggak bisa lagi karena sudah nggak ada. Gado2 rasa pecel taunya #eh,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kate middleton mah lewaaatt haha

      Gado2 rasa pecel ituuuuu...bentar deh aku bayangin gimana rasanya yak

      Delete
    2. Jangan dibayangkan. Nti pusing sendiri sama rasanya #hahaha..

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

Book : Semakin Dalam Di Jejak Langkah

  Buku ketiga dari Buru Tetralogi ini lebih berat dari Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa . Disini banyak disinggung tentang Multatuli yang mengungkap "kotornya" birokrasi. Kotor disini tentu saja soal korupsi. Semakin dalam membaca ternyata semakin paham kalo kemungkinan besar korupsi ini "warisan budaya" kolonial. Buku ini pun mengatakan bahwa kolonial berhutang banyak gulden kepada Hindia Belanda atas semua hitungan 'meleset'nya penerimaan pajak dan penyalurannya. Siapa yang nggak mau untung banyak? Ya kolonial menang banyak. Bahkan kalau mau benar-benar dihitung, bisa jadi mereka kalah. Tapi nggak mungkin kan diusut karena kolonial tau kalau mereka bakal ketauan salah dan memungkiri itu. Jadi yaaa, lenyap begitu saja. Disini Minke kawin setelah ditinggal Annelies yang Indo dia kawin dengan yang orang tionghoa. Lagi-lagi pula dia ditinggalkan karena istrinya sakit (kemudian kawin lagi dengan Prinses yang ntah darimana tapi yang jelas dia berpendid

Traveling During Pandemic

CGK to DPS I am one of the people who travel (relatively a lot) during a pandemic. Unfortunately, me being in a long-distance marriage, need mental and physical support once in a while.  In the beginning, we met after 8 months of the pandemic and then 3 or 4 months, then every 2 months. I went wild the first 8 months of the pandemic. Everything felt harder. I know many people feel the same, I am not the only one. We're just coping with the best we can do.  The island I call home 💙 It was so stressful the first time traveling during the pandemic. Like I said here , it's not really worth the effort if you're traveling "for fun". PCR price was crazy, every time we have to calculate the time, make it double as well as the price. Because we buy the time with money. I usually book a ticket at least 2-4 weeks before my travel, then went to the airport 2 hours before my flying time, everything felt so efficient but not during the pandemic. I booked my ticket a week befor

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar.  Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa men