Skip to main content

Pentingkah Memiliki Asuransi?

sunset di Kuta Bali
Dulu tiap kali denger kata asuransi, gw selalu antipati. Rasanya seperti, "Apaan sih asuransi-asuransi? Udah duit ilang, nggak dapet apa-apa, mending diinvestasikan aja lah" Asuransi yang gw punya cuma asuransi kesehatan aja karena otomatis terdaftar di Askes sebagai anak dari PNS.

Asuransi adalah pertanggungan atau perjanjian antara dua belah pihak, di mana pihak satu berkewajiban membayar iuran atau kontribusi atau premi. Pihak yang lainnya memiliki kewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran/kontribusi/premi apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang miliknya sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat) -  Wikipedia
Tentu saja akhir-akhir ini sudah berubah dong opini gw terhadap asuransi. Tak kenal maka tak sayang. Gw pelajari tentang asuransi lebih jauh beserta manfaatnya. Tapi, benahi dulu definisi awal asuransi. Banyak orang yang salah kira kalau asuransi adalah soal "investasi." Asuransi bukan investasi.

Cooking class



Ini pertama kalinya buatku mengambil cooking class. Bukan karena nggak bisa masak tapi ini pertama kalinya cooking class bareng HJ. Harusnya sih yang kedua, tapi pas di Jogja kemaren nggak bisa ikutan gara-gara tes. Yaudah deh kali ini langsung berbinar pas bisa ambil kelas ini. Seneng aja. 



Buat kebanyakan orang disini mungkin agak nggak penting kali ya, tapi buat dia ini tuh seru banget. Buatku juga sih, karena kita nggak pernah dapet waktu buat masak bareng. Akhirnya kita ambil kelas ini dong. Bukan karena aku nggak bisa masak kok, seriusan. Aku bisa masak kok biar kata cuman bikin gorengan.



Siang sekitar jam 11.30 kelas dimulai. Kita dateng duluan karena kemaren belum mereka konfirmasi soal jadwal kita, jadilah kita dateng sejam lebih awal dan ternyata kita sudah tercatat. Yaudah kita tinggal ngopi dulu deh. Ternyata kelas pertama ini ada 6 orang, dan lagi-lagi cuman aku orang Indonesianya. Hello..I am still in Indonesia right?


 Kita berdua pilih 4 menu, tadinya mau pilih 6 menu yang ada ayam taliwangnya tapi kok ya banyak bener ya. Kan nanti ini semua kita yang makan. Yawes lah daripada kebanyakan mending kita ambil yang 4 menu aja deh. Kelepon, bumbu kacang, mi goreng sama kare. Sekilas liatnya sambil mikir ‘ahhh ini mah gempil, makanan begini yang penting ada bawang merah putihnya sama cabe deh, pasti jadi’. Tapi keleponnya nggak pake cabe-cabean lah ya. Kare juga tinggal beli bumbu jadi hahaha *mikir praktis tapi penyakitan*


Kita mulailah masaknya. Pertama kita bikin kelepon. Tapi mereka bilangnya kelopon. Kan ada santan tuh, sama tepung, ya aku pikirnya santannya udah sesuai takaran jadi tinggal masukin aja. Eh ternyata nggak, ya susah dong, udah terlanjur masukin semuanya hahaha. Dia bilangnya ‘You already screw it up hun’. Yayayayaya salahin instrukturnya dong yang nggak bilang kalo itu santan estimasi aja.

15 menit kelopon kelar, selanjutnya bikin bumbu kacang semacem pecel gitu tapi ya nggak pecel-pecel banget sih. Ceritanya kan kacangnya diulek ya, pake yang batu itu. Mereka si bule-bule pada terpesona semuanya sama itu ulekan batu. Mereka pada bingung gimana pakenya, yawes aku contohin ke HJ caranya ngulek yang cepet dan praktis, dia niruin tapi nggak persis. Yowes lah mas yang penting itu lembut deh pokoknya. Dia lagi-lagi terpesona sama caraku ngulek hahahaha *merasa menang dan terbukti aku bisa kok bertahan didapur*.

Nah lucunya lagi, pas bikin mi goreng, bumbunya ka nada cabenya satu dan cabe besarnya itu seperempat potong. Pertama mereka nanya cabe besar ini pedes nggak? Kok gede banget sih. Yaelah aku ngakak aja, itu mah nggak ada pedes-pedesnya mbak plis deh. Trus nanya yang cabe rawit itu, kecil mungil, nanya ini pedes apa nggak. Ya aku jawab lah itu sama sekali nggak pedes. 2 instrukturnya juga bilang gitu. eh mereka pada jawab ‘no no no I don’t believe Indonesian when they said it’s not spicy’. Kalah bro. mereka berlima bilang nggak percaya, kita yang Indonesia cuman bertiga. yawes terserah lah ya.

Mereka berempat memilih 3 menu, jadilah selesai duluan mereka. Sedangkan kita berdua masih harus masak ekstra satu menu lagi. Kare. Duh santannya aduhai bikin takut aja. Emang aku nggak seberapa suka makanan bersantan sih, jadinya serem aja ngeliat santan yang kental banget. Masak terakhir dibantuin si asisten yang cowok itu. Dia itu sangar bener deh. Konyol banget. Kalo nggak salah namanya Adin deh. Kalo nggak salah sih. 

 
Nah, udah selesai semua ya masaknya, waktunya makan sekarang. berbincanglah kita kesana kemari sambil makan. Duh kalo aku makan sih jarang ngobrol, terlalu fokus sama makanannya soale. Alamakkk kenyang ternyata ya. Mi goreng, kare, tempe goreng + bumbu kacang, terakhir kita makan keleponnya. Karena kita lupa keleponnya belum diambil dari dapur. 

 
Selesai kelas itu, selama didalem kelas juga sih, kita berdua mikir gimana kalo nanti kita bikin cooking class kayak gini. Lumayan lho untungnya. Tiap orang aja bayarnya 300ribuan. Yang di Jogja juga sekitar segitu. Kalo sekali kelas ada 6 orang dan sehari ada 3 kelas, udah berapa itu untungnya cobak? Banyak bro.


Sedang belajar masak dan mempersiapkan diri untuk membuka cooking class

Comments

  1. aku daftaaaar
    tapi gratis ya mbak
    aku mau juga bikin klepon
    biasanya ngrecokin emak tapi jadinya cenil... xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku kasih diskon wes 50% khusus yg sama almamaternya 😂😂

      Delete
  2. Waktu aku nunjukin cara ngulek bumbu ke Mark dia juga terpesona. Katanya itu alat jaman batu yang ajaib. Dia bilang harus bawa pulang satu ke kampungnya di holand buat dipamerin ke temennya -__-'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seriusan dia blg gitu????? Sama persis sama HJ yang bilang gitu. Katanya mau bawa cobek batu ke belanda nanti kalo pulang. Ya kaliiii berat2in bagasi aja 😂😂😂

      Delete
    2. Iya. Pas discanner terus ditanyain custom mau jawab apa coba? Hahahaha

      Delete
    3. Bilang aja 'teknologi canggih dan keren dari jaman batu' 😂😂😂😂

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…

Punya Rekening Lagi : CIMB on Account

Saya cenderung males bawa uang cash. Kenapa? Ribet, nominal rupiah yang gede banget kebanyakan nol, dan seringnya di dompet isinya duaribuan. Pernah lho duaribuan itu ada kali 30lembar. Serasa kaya, kalo duitnya merah haha

Saya lebih suka debet. Lebih praktis kan, tapi nggak bisa dipake beli di toko kelontong. Jatohnya malah lebih mahal sih emang, dipakenya juga kalo nggak ke toko kelontong kan. Tapi... Saya juga sebenernya rada takut akhir-akhir ini. Karena uang di rekening bisa aja tiba-tiba ilang. Ada temen, satu kali gaji ilang. Untung aja dia urusin bener-bener dan bisa balik duitnya. Ada lagi OB juga gitu, duitnya juga ilang mendadak. Takutnya itu kan di hack atau diduplikat kartu ATM nya. Semakin canggih lah pokoknya.

Nah karena banyak kejadian kayak gitu, saya jadi lebih protektif ke kartu mana yang bisa dipake sembarangan dan mana yang nggak boleh. For sure, ini berhubungan dengan berapa banyak jumlah rekening yang dimiliki. Menurut saya sih minimal harus punya 2. Satu buat …