Skip to main content

Pentingkah Memiliki Asuransi?

sunset di Kuta Bali
Dulu tiap kali denger kata asuransi, gw selalu antipati. Rasanya seperti, "Apaan sih asuransi-asuransi? Udah duit ilang, nggak dapet apa-apa, mending diinvestasikan aja lah" Asuransi yang gw punya cuma asuransi kesehatan aja karena otomatis terdaftar di Askes sebagai anak dari PNS.

Asuransi adalah pertanggungan atau perjanjian antara dua belah pihak, di mana pihak satu berkewajiban membayar iuran atau kontribusi atau premi. Pihak yang lainnya memiliki kewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran/kontribusi/premi apabila terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama atau barang miliknya sesuai dengan perjanjian yang sudah dibuat) -  Wikipedia
Tentu saja akhir-akhir ini sudah berubah dong opini gw terhadap asuransi. Tak kenal maka tak sayang. Gw pelajari tentang asuransi lebih jauh beserta manfaatnya. Tapi, benahi dulu definisi awal asuransi. Banyak orang yang salah kira kalau asuransi adalah soal "investasi." Asuransi bukan investasi.

Bule juga manusia

Memiliki pasangan bule banyak menimbulkan banyak pertanyaan. Reaksi positif bahkan merendahkan / negatif pun sudah sering saya dapatkan. Bagi sebagian orang, memiliki pasangan bule bisa jadi kita para wanitanya dianggap 'nakal'. Atau bahkan pertanyaan dan pernyataan yang merendahkan seperti 'dibayar berapa sama bulenya?', 'dibeli berapa ratus juta semalem', dan masih banyak yang lainnya. Mas pacar sempet marah waktu ada yang iseng bilang begitu.

Ketika menjemput dia di bandara dan naik taksi, bapak supir taksi bertanya jika dia adalah pacar saya, daripada lama ya saya bilang iya. Kemudian bapaknya melanjutkan bilang 'wahh enak ya mbak, memperbaiki keturunan'. pernyataan seperti itu jujur sangat merendahkan. Seolah-olah kita sangat jelek sekali dan tujuan kita menikah hanya untuk mendapatkan keturunan dengan ras yang sama seperti pasangan saya.

Ada lagi pertanyaan yang selalu muncul ketika mengetahui pasangan saya bule. 'Wah Adit sukanya yang gede ya, udah nggak mau yang lokal'. Nah itu apa coba ya. Gede apanya sih. Kalau kata temen, nggak penting ukurannya yang penting gojekannya hahaha.. Tapi pertanyaan dan pernyataan seperti itu tidak akan bisa dihindari.

Saya sering heran, kenapa mereka suka sekali mempertanyakan hal yang aneh-aneh bahkan ngayal seolah bule adalah orang yang memiliki ras super. Bule pun juga manusia sama seperti kita. Pasangan saya juga doyan nasi bahkan pecel di warung pinggir jalan kok. Jadi kenapa harus menganggap mereka itu makhluk superior dan spesial? Spesial sih karena dia adalah orang yang saya cintai 😙

Tapi menghilangkan anggapan bahwa bule itu makhluk dengan ras paling super memang tidak mudah. Saya jujur, agak ogah pakai sebutan bule. Saya lebih nyaman menggunakan sebutan orang asing.

Ada juga yang menanyakan gimana rasanya pacaran sama bule. Pertanyaan yang aneh kan? Ya jelas saja saya bilang enak, wong pacarannya sama orang yang dicintai disayangi kok, ya jelas nyaman lah.

Sejauh ini saya nyaman sekali dengan pasangan saya, meskipun hati dia sangat sensitif sedangkan saya sangat tidak sensitif hehehe.. Tapi saya sangat nyaman dan menikmati step demi step hubungan ini yang makin lama makin mendekatkan dan menguatkan hubungan kita berdua.

Dan sekali lagi, bule juga manusia sama seperti kita.

*Agak khawatir ngebiarin si mas jalan sendirian disini gegara pernah digodain bule hunters*

Comments

  1. Jangankan mbak yang cewek, saya lo jalan sama temen kantor saya yang bule dikira pasangan homonya-___-'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahaha daripada dibilang bodyguard nya hayooo
      Rada susah jalan smaa yg beda ras begini. Gini salah gitu salah.

      Delete
    2. Iya, dengan muka tembok bisa-bisanya temen saya nanya:


      'Wah, udah jalan berapa lama lo sama dia?'


      NGOK...

      Delete
    3. Huwakkkkk hahahahaha
      Spesial banget pertanyaannya hahaha

      Delete

Post a Comment

Share your thoughts with me here

Popular posts from this blog

[Piknik] Prambanan lagi

Salah satu pesona Jawa Tengah adalah Candi Prambanan. Saya sudah 3 kali berkunjung ke situs warisan dunia ini. Candi yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan jogja ini selalu menimbulkan kesan mistis bagi saya. Terletak tak jauh dari jalan raya, sehingga mengunjunginya pun sangat mudah. Berbeda dengan Candi Borobudur yang letaknya sangat jauh dari jalan raya besar. 
Ok, menurut saya ada 3 cara menuju candi ini. Menggunakan bus transjogja, taksi, dan kendaraan pribadi. Bagi yang menggunakan transjogja, saya pernah menggunakannya berangkat dari daerah kampus UNY, daerah Depok Sleman. 1 kali transit, 2 kali berganti bus. Dengan harga transjogja yang kala itu, 2014, seharga 3500 rupiah. Tapi sampai saat ini masih sama harganya, menurut info dari teman. Lokasi shelter bis berada agak jauh dari pintu masuk lokasi candi, mungkin kira-kira 500meter sampai 1kilometer. Kalau jalan, menghabiskan waktu sekitar 15-20menit. Bisa juga naik becak untuk opsi yang lain. Lagi-lagi, jangan lupa menaw…

Pake Jenius

Beberapa waktu lalu sering liat counter Jenius di Matos, yang lalu kutemui pula di MOG. Anak Malang tau lah dua mall ini. Nah udah cari info sana sini ya, kok kayaknya asik gitu. Jadi memberanikan diri untuk sign up. Apakah perlu kujelaskan fitur dan fungsinya secara mendetail? Karena sudah banyak tercecer informasinya di internet. Nggak ah, gw mau bahas pengalaman gw pake kartu ini selama sebulan ini.

Sign up lah aku di counter MOG (ya gusti kejebak lagi gw pake nambah kartu-kartuan begini). Kemudian, berkatalah mbaknya "Transfer aja mbak satu juta kesini, kita lagi ada promo kalau transaksi pertama kali satu juta akan ada free kartu member starbucks dengan saldo 50ribu. Lumayan lho mbak Starbucks". Gw nggak fanatik Sbucks (cuma kalo harus beli Chai tea selalu kesini). Dan tanpa sadar pun gw transfer sejuta ke akun jenius gw. Because, why not? Lagian juga mindah duit gw sendiri ke rekening yang lain kan? Nggak ilang duit juga.

Jadilah kudapat kartu Jenius beserta k…

Punya Rekening Lagi : CIMB on Account

Saya cenderung males bawa uang cash. Kenapa? Ribet, nominal rupiah yang gede banget kebanyakan nol, dan seringnya di dompet isinya duaribuan. Pernah lho duaribuan itu ada kali 30lembar. Serasa kaya, kalo duitnya merah haha

Saya lebih suka debet. Lebih praktis kan, tapi nggak bisa dipake beli di toko kelontong. Jatohnya malah lebih mahal sih emang, dipakenya juga kalo nggak ke toko kelontong kan. Tapi... Saya juga sebenernya rada takut akhir-akhir ini. Karena uang di rekening bisa aja tiba-tiba ilang. Ada temen, satu kali gaji ilang. Untung aja dia urusin bener-bener dan bisa balik duitnya. Ada lagi OB juga gitu, duitnya juga ilang mendadak. Takutnya itu kan di hack atau diduplikat kartu ATM nya. Semakin canggih lah pokoknya.

Nah karena banyak kejadian kayak gitu, saya jadi lebih protektif ke kartu mana yang bisa dipake sembarangan dan mana yang nggak boleh. For sure, ini berhubungan dengan berapa banyak jumlah rekening yang dimiliki. Menurut saya sih minimal harus punya 2. Satu buat …